Indonesian
Friday 20th of October 2017
code: 81632
4 Tingkatan Kesucian dan Kebersihan

Allah SWT berfirman dalam surah At-Taubah ayat 108, “… di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih.” Demikian juga dalam surah Al-Maidah ayat 6, “… Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu.”
Beberapa sabda Rasulullah SAW tentang kebersihan yakni,
“Kebersihan adalah sebagian dari iman.”
“Kebersihan adalah kunci shalat.”
“Islam dibangun atas kebersihan”.
“Hamba yang kotor adalah hamba yang buruk.”
“Barangsiapa yang telah memakai pakaiannya, maka hendaklah dia membersihkannya.”
Orang-orang berakal dengan mudah menemukan makna lahir dari hadis-hadis tersebut di atas, bahwa iman seseorang akan sempurna ketika batin bersih dan suci, yang mana Rasulullah SAW bersabda bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Maksudnya adalah sebagian dari iman akan diperoleh dengan perantara kebersihan lahir dan sebagian lainnya dengan perantara kebersihan dan mensucikan batin dengan jalan amal-amal saleh dan akhlak yang terpuji.
Thaharah dan kesucian memiliki empat tingkatan. Pertama, membersihkan dzahir  (lahir) dari ketercemaran dan kotoran-kotoran. Kedua, menjaga anggota badan dari kejahatan dan dosa-dosa. Ketiga, membersihkan hati dari akhlak buruk dan tercela. Keempat, membersihkan batin dari segala sesuatu selain Tuhan. Thaharah dan kesucian ini adalah thaharah para nabi dan shiddiqin. Dan thaharah pada setiap tingkatan-tingkatannya adalah sebagian dari perbuatan-peruatan yang berkaitan dengan tingkatan tersebut.
Hal ini adalah maqam-maqam  iman, yang mana setiap maqam memiliki tingkatan-tingkatan. Dan seorang hamba tidak akan mencapai maqam tertinggi kecuali melewati tingkatan yang paling bawah/rendah. Dan seseorang yang tidak sanggup membersihkan hati dari sifat-sifat tercela dan menyuburkannya dengan akhlak terpuji, maka dia tidak dapat meraih kebersihan batin dari akhlak terpuji dan menghiasinya dengan perbuatan-perbuatan terpuji. Demikian juga sesesorang yang tidak menyelesaikan tugasnya dalam membersihkan anggota-anggota tubuhnya dari perbuatan haram dan menghiasinya dengan ketaatan beribadah, maka dia tidak akan dapat mencapai maqam tersebut. Karena setiap tujuan yang memiliki ukuran lebih bernilai dan lebih mulia, untuk mencapainya harus menempuh jalan yang lebih sulit. Hanya dengan berkhayal harapan dan angan-angan tersebut  dapat tercapai tanpa susah payah dan kesungguhan.
Seseorang yang mempunyai pandangan buta dan tidak memahami perbedaan tingkatan-tingkatan ini tidak akan mengetahui derajat-derajat kesucian, kecuali tingkatan permulaannya saja, yang mana tingkatan tersebut jika dibandingkan dengan kesempurnaan derajat kesucian tertinggi, kedudukannya sebagaimana kulit dinisbahkan terhadap inti dan jauhar. Dan dia hanya senantiasa akan berada di tahap itu, teliti dan berlebih-lebihan serta hanya menyibukkan diri dengan memelihara kebersihan lahiriahnya. Padahal batinnya dalam kondisi rusak dan bercampur dengan kotoran-kotoran seperti kibr (kesombongan), egoisme, kejahilan, riya dan kemunafikan (hipokrit).

user comment
 

latest article

  Belajar Matematika Keadilan Bersama Imam Ali bin Abi Thalib as
  Sayyidina Ali : Tidak Ada yang Pernah Berbuat Buruk Kepadaku !
  EMPATI : JALAN MEMUHAMMADKAN DIRI
  TRIK-TRIK MENDIDIK JIWA
  MENGENAL NAFS (I)
  Perintah Birrul Walida’in dalam Al-Qur’an
  Sayidah Zainab as, Srikandi Keadilan
  DUA LANGKAH IMAM 'ALI
  Fatimah Az-Zahra, Perempuan Teladan Dunia
  Imam Sajjad, Simbol Keagungan Akhlak dan Spiritualitas