Indonesian
Tuesday 26th of September 2017
code: 81671
TAWAKKAL

Tawakkal itu seasal kata dengan "wakil". Jadi bertawakkal artinya mewakilkan sesuatu kepada pihak lain. Bertawakkal kepada Allah bermakna mewakilkan beban hidup kepada Allah agar masalah yang timbul darinya tak menjadi beban di dalam jiwa. Perasaan jadi ringan. Dada jadi lapang.

Beban di jiwa mempengaruhi detak jantung. Sementara detak jantung mempengaruhi peredaran darah dan ritme biologis tubuh. Sehingga semakin berat beban di jiwa akan semakin merentankan seseorang terhadap gangguan emosi.

Orang yang paling berat beban hidupnya ialah para nabi. Karena tugas yang terpikul di pundaknya adalah menyampaikan ajaran moral, norma sosial, dan ibadah kepada manusia tanpa imbalan apapun dan dengan risiko yang amat berat: dinista, dicaci, diganggu, diancam, disiksa, diusir, bahkan dibunuh. Tetapi mereka menghadapi itu semua dengan tenang, kepala dingin, dan tetap berpikiran jernih.

Beda dengan kita. Kita perlakukan jiwa sebagai kotak serba bisa. Sehingga jarum yang patah pun tetap kita simpan rapih dalam hati. Apatah lagi jika hati yang patah. Bisnis yang gagal. Karier politik yang kandas. Pekerjaan tak jelas. Bermasalah dengan hukum.

Apa sebab? Sederhana. Nabi merendah dan merasa tak berdaya di hadapan Tuhan, sementara kita merasa hebat dan mempertuhan diri sendiri. Seakan-akan semua kebaikan berasal dari diri kita, dan semua masalah mampu kita tanggung sendiri, sehingga Tuhan tak perlu lagi kita libatkan. Atau kalau toh kita libatkan, kita melibatkan-Nya sebagai pelengkap penderita belaka. Yaitu setelah kita terdesak.

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ؕ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ؕ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖ ؕ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
"Dan Dia memberi rezeki (kepada orang bertakwa) dari arah yang tak disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap sesuatu." (QS. 65: 3)

*Muhammad Rusli Malik (Penulis Tafsir Al-Barru)

user comment
 

latest article

  Kisah di Balik Lukisan Terkenal Asyura
  Falsafah Menangis atas Imam Husain as(2)
  Falsafah Menangis atas Imam Husain as(1)
  Asyura: Epik Cinta, Pengabdian dan Kesetiaan (2)
  Al-Quran dalam Kehidupan Imam Husein as
  EPISODE TERAKHIR KARBALA; Mengapa Harus putra putri kecil itu
  Mengenal Karakteristik Unggul Imam Husein as
  Majelis Duka, Ritual Melestarikan Asyura.
  Pentingnya Memperingati Tragedi Asyura
  FALSAFAH KEBANGKITAN IMAM HUSAIN