Indonesian
Saturday 22nd of July 2017
code: 81686
Arab Saudi Halangi Solusi Politik di Yaman

Juru bicara Gerakan Ansarullah Yaman, Mohammad Abdulsalam mengatakan Arab Saudi menghalangi upaya-upaya untuk mencapai perdamaian di negara itu.

Ia mengeluhkan hal itu dalam pembicaraan telepon dengan Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Ismail Ould Cheikh Ahmed pada Rabu (8/3/2017), seperti dikutip kantor berita IRNA.

"Serangan dan blokade ekonomi telah menghalangi perdamaian di Yaman dan para agresor bertanggung jawab atas masalah ini," tegas Abdulsalam.

Dia menyambut upaya masyarakat internasional untuk mendorong solusi politik yang komprehensif di Yaman.

"Yaman masih mempertahankan sikapnya untuk mencapai sebuah solusi yang disepakati dalam perundingan Oman, di mana mencakup masalah politik, keamanan dan kemanusiaan," tambahnya.

Rezim Saudi telah melanggar semua kesepakatan gencatan senjata PBB di Yaman dan merusak perundingan-perundingan di masa lalu. Riyadh memanfaatkan kondisi itu sebagai kesempatan untuk mengerahkan pasukan dan menutupi kekalahannya di Yaman.

Saudi bersama beberapa negara Arab di Timur Tengah dan dengan dukungan Amerika Serikat, melancarkan serangan besar-besaran ke Yaman sejak 26 Maret 2015. Agresi ini telah menewaskan lebih dari 11 ribu warga Yaman dan melukai puluhan ribu lainnya.

Serangan Saudi juga menghancurkan fasilitas dan infrastruktur Yaman, termasuk rumah sakit, sekolah dan pabrik. (RM)

user comment
 

latest article

  Terkena Wabah Kolera, Penderitaan Rakyat Yaman Makin Bertambah
  Pemerintah Sudah Tepat Bubarkan HTI
  Ulama Sulsel Bahas Perppu Ormas dengan Presiden
  Pernyataan Sikap Ormas Islam Ahlulbait Indonesia (ABI) Tentang Kebrutalan Rezim Zionis Di Masjid Al-Aqsa
  Majelis Ulama Bahrain Keluarkan Pernyataan Keras Tolak UU Keluarga yang Disahkan Parlemen
  Pesan Kiai Said dalam Halal Bihalal Muslimat NU
  Dukungan kepada Teroris, Hakikat Utama AS
  Saudara Raja Salman Meninggal Dunia
  Peringati 72 Tahun Kemerdekaan RI, Presiden Jokowi Ingin Ada Dzikir Akbar di Halaman Istana
  Nabil Muddhat menjadi Perempuan Pertama Komandan Militer di Suriah