Indonesian
Monday 29th of May 2017
code: 81736
Mengapa Saya Tidak Menolak Syiah?

Sebagaimana fisik yang terus tumbuh dan berkembang, jiwa pun mengalami proses yang sama, fakultas-fakultas jiwa dan pengetahuan manusia terus berkembang dan meluas seiring dengan perkembangan daya-daya sensasi eksternalnya. Ketika pengetahuan dapat bertambah serta meluas, maka pemahaman pun bisa berevolusi dan terus menyempurna. Proses ini terus berlangsung hingga merambah keimanan dan keyakinan kita, lantaran pijakan terpenting dari iman dan keyakinan kita adalah pengetahuan. Iman adalah sejenis kehendak dalam menyakini (ikhtiari). Kita bebas menerima dan menolak! Dengan demikian, iman dan keyakinan memungkinkan perubahan dan rekonstruksi.

Biasanya, di usia 6 atau 7 tahun orang tua kita mulai mengajarkan konsep-konsep religius, di sekolah dasar pun kita mulai diajari prihal agama. Secara perlahan kita berkenalan dengan konsep-konsep seperti Tuhan dan Nabi (Rasul) serta serangkaian konsep-konsep religius lainnya semisal surga, neraka, malaikat, bidadari, hari kiamat dst. Begitulah kira-kira awal perjalanan dan penjelajahan intelektual-religius kita hingga meretas tahapan-tahapan lebih tinggi serta lebih rumit. Namun, biasanya terdapat satu fase yang sangat krusial dan amat menentukan kehidupan religius kita. Sebagian melalui dan mengalami fase “kritis” itu ketika masih berstatus pelajar SMU, sebagian lagi ketika menjadi mahasiswa(i) dan sebagian lainnya pasca jenjang ini, bahkan ada pula yang mecicipinya ketika sudah “bau tanah!”. Pengalaman bisa saja berbeda, bahkan niscaya berbeda lantaran setiap entitas materil, tak terkecuali manusia, memilki dimensi temporal dan spasialnya masing-masing.

Sebagai muslim yang lahir dan tumbuh besar dalam tradisi keislaman nusantara, kehidupan religius kita terbilang “normal” dan baik-baik saja, hingga ketika kita mulai bersentuhan dengan beragam wacana pemikiran keagamaan, mulai yang sangat radikal-ekslusif hingga yang sangat liberal-inklusif, bahkan ateis. Secara kultural, kebanyakan kita adalah muslim/muslimah yang menganut ajaran Sunni, meski boleh jadi kita sendiri tidak begitu paham dan mengerti apa itu Sunni, sejak kapan kita menjadi seorang Sunni dan mengapa kita di sebut Sunni (Ahlussunnah wal jamaah)? Di saat yang sama, kita diperkenalkan pula dengan pelbagai golongan Muslim lainnya dan yang paling menonjol adalah nama Syiah. Syiah selalu diperhadapkan dengan Sunni dan kerap kali – oleh segelintir orang – digolongkan dalam kelompok aliran-aliran sesat, bahkan kafir! Bagi sebahagian orang, tidaklah penting mengidentifikasi diri sebagai Sunni atau Syiah atau dengan indentitas mazhab lainnya, cukuplah Islam sebagai indentitas tanpa labelisasi tambahan. Secara prinsip, saya cenderung sependapat dengan “pernyataan” di atas. Muslim; adalah penganut agama Islam.Kita memang tidak menganut Sunni atau Syiah, anutan kita adalah Islam. Tapi dalam realitasnya kita tidak pernah bisa menghindari pemetaan dan pengelompokan seperti itu. Deskripsi, interpretasi dan pemahaman kita terkadang berbeda antara satu sama lain, dan setiap penafsiran atau pemahaman melahirkan konsekuensi-konsekuensi tertentu yang pada gilirannya mengkristal dan menginstitusi dengan warna dan ciri masing-masing, maka muncullah beragam aliran, metode, tariqah, manhaj, mazhab dll.

Di antara semuanya, subjek bahasan paling unik sekaligus menarik serta menyita perhatian kita adalah Syiah, lantaran selalu dipersandingkan dengan Sunni atau Ahlussunnah Wal Jama’ah (mazhab Islam yang selama ini dilabelkan kepada kita).

Tentunya agak sulit untuk mengkaji dan meneliti seluruh perkara dalam suatu ajaran (mazhab). Oleh sebab itu, mengkaji atau meneliti perkara-perkara prinsipil (ushul) suatu ajaran adalah solusi yang tepat dan cukup logis. Dengan dalih ini pula, saya memilih untuk mengurai serta mengkaji pilar-pilar utama yang menjadi prinsip akidah Syiah. lagi pula, guna menilai tingkat kekokohan sebuah gedung yang menjulang tinggi, bukan dengan melihat dan memeriksa atap atau dinding-dindingnya, melaikan dengan melihat komposisi dasar yang membentuk fondasinya.

Mazhab Syiah memiliki rumusan akidah yang dikenal dengan Usuluddin, isinya sederhana : Tauhid, Keadilan, Kenabian, imamah, Kiamat (ma’ad). Sepintas, tak ada yang berbeda dengan akidah Sunni, kecuali Imamah (kepemimpinan) yang seingat saya kalau di Sunni hanya dibahas pada wilayah furu’ (perkara-perkara cabang agama). Selebihnya sama-sama diterima dan di yakini sebagai akidah dasar di Syiah dan Sunni. Syiah dan Sunni adalah Muslim yang sama-sama beriman kepada Allah Swt sebagai satu-satunya Tuhan, beriman dan menyakini bahwa Allah Swt Maha hidup, Maha tahu, Maha kuasa, Maha berkehendak, Maha pencipta, Maha bijaksana, Maha adil, Maha penyayang serta sifat-sifat lainnya, dan secara khusus menyakini dan mengimani Keadilan Tuhan, di samping itu beriman pula kepada hari kiamat atau kebangkitan (ma’ad).

Mengapa saya tidak dapat menolak akidah Syiah, bahkan cenderung menerimanya sebagai akidah yang benar? alasan atau jawaban pertanyaan ini sebenarnya tidak sulit, sepanjang mengkaji akidah pokok (usuluddin) Syiah, saya menemukan dan melihat sebuah konsistensi serta relasi logis dari apa yang menjadi akidah pokok (usuluddin) mazhab Syiah, yang justru tidak saya temukan dalam mazhab Sunni. Menurut hemat saya, pijakan paling bijak dalam mengkaji dan meneliti suatu akidah (keyakinan) adalah logika dan rasionalitas. Mengapa? Karena produk dan pijakan keduanya adalah hukum-hukum yang bersifat universal! Hal ini tentu sangat efektif dalam meminimalisir, bahkan menghilangkan problem keragaman referensi-referensi ilmiah dan historis meliputi riwayat-riwayat atau semacamnya. Riwayat-riwayat tentu amat diperlukan untuk validasi selanjutnya ketika titik pijakan kita sudah jelas dan kokoh. Lalu seperti apakah konsistensi dan relasi logis yang dimaksud?

Tauhid Syiah

Sebelum pembuktian ke-Esa-an Tuhan, para teolog Syiah terlebih dahulu membuktikan eksistensi Tuhan dengan berbagai dalil rasional (aqli) dan tekstual (naqli). Inferensi-inferensi pembuktian wujud Tuhan mereka demonstrasikan dengan begitu logis. Argumen-argumen rasional Syiah dapat kita baca dalam buku-buku klasik ulama mereka seperti, Tajrid al-Ittiqad (karya Khojah Nashiruddin Thusi) atau Kasf al-Murad fii Syarhi Tajrid al-Ittiqad (karya Allamah Hilli) atau dalam buku-buku ulama kontemporer mereka seperti, Iman Semesta (karya Muhammad Taqi Misbah Yazdi) atau buku Tauhid; Rasionalisme dan Pemikiran dalam Islam (karya Hasan Abu Ammar). Ulasan bebas argumen Thusi dapat dituliskan seperti berikut, “Suatu entitas atau keberadaan (maujud), apabila wujudnya niscaya (wajib al-wujud), maka terbuktilah wujud yang ingin dibuktikan (yaitu Tuhan), tetapi jika tidak demikian, maka keberadaan (entitas) tersebut adalah keberadaan kontingen (mumkin al-wujud) – seperti benda-benda yang ada di sekitar kita atau alam raya ini, meliputi seluruh makhluk yang ada di dalamnya, mulai dari Malaikat tertinggi hingga partikel-partikel materi terkecil, semuanya termasuk dalam kategori entitas-entitas kontingen (mumkin al-wujud) – dan setiap entitas kontingen meniscayakan (memerlukan) keberadaan yang mesti atau niscaya (wajib al-wujud) lantaran teori daur (rangkaian berputar) dan tasalsul (rangkaian tak terhingga) mustahil terjadi (lihat lebih jauh pembahasan ini pada buku-buku yang telah disebutkan di atas serta buku-buku lain yang serupa).

Setelah eksistensi Tuhan terbukti (hal ini diperlukan mengingat ada sebagian orang yang bahkan mengingkari wujud dan eksistensi Tuhan), langkah selanjutnya adalah membuktikan satu persatu sifat-sifat Tuhan termasuk sifat tunggal dan ke-Esa-an Tuhan (Tauhid), meskipun sebenarnya tauhid itu sendiri telah inklud dalam pembuktian wujud Tuhan, sebab salah satu sifat zat wujud adalah ketunggalan, sehingga ketika wujud terbukti dan terafirmasi maka dengan sendirinya sifat tunggal (‘ahad) pun akan terbukti dan terafirmasi, begitupula dengan sifat-sifat wujud lainnya seperti; tak terbatas, murni (mutlak), sederhana (tidak tersusun), dll.

Konsep Keadilan Syiah

Sebagaimana sifat-sifat lainnya, sifat adil atau keadilan Tuhan dibahas pula oleh para teolog Syiah, bahkan pembahasan tentang konsep keadilan ini mendapatkan perhatian dan proporsi yang lebih. Pandangan teologis Syiah terkait konsep keadilan sangat berbeda jauh dengan pandangan para teolog As’ariyah namun searus dengan pandangan para teolog Mu’tazilah. Oleh sebab itu, Imamiyah dan Mu’tazilah dikenal pula dengan nama Adliyah. Konsep keadilan ini lebih menonjol dan dijadikan sebagai salah satu prinsip akidah (ushul mazhab) Syiah lantaran berpengaruh luas dalam menyelesaikan berbagai problem teologis. Kalangan Syiah dan Mu’tazilah meyakini bahwa keadilan merupakan suatu hakekat (realitas), oleh sebab itu Tuhan dalam perbuatan-perbuatan-Nya selalu mengacu pada hakekat dan realitas ini, yakni – sebagai contoh – Tuhan mustahil mengganjar segala ketaatan hamba-hamba-Nya yang tulus (mukhlis) dengan siksaan api Neraka dan memanjakan para pendosa dan pelaku kemaksiatan dengan berbagai kenikmatan Surga, mengingat tindankan semacam itu sangat jauh dari hakekat Keadilan. Sementara itu, kalangan As’ariyah justru menegaskan bahwa apapun yang dilakukan Tuhan adalah keadilan. Jika kelak Tuhan memasukkan seluruh orang-orang yang baik dan taat kepada-Nya kedalam Neraka dan menjamu para pendosa dan pelaku kezaliman di Surga, maka tindakan tersebut adalah sebuah keadilan hakiki (terkait pembahasan ini, dapat pula kita baca di kitab-kitab Kalam Islami, klasik maupun kontemporer)

Konsep Kenabian Syiah

Falsafah kenabian (nubuwah) berkaitan erat dengan tujuan penciptaan manusia, manusia diciptakan Tuhan bukan untuk sekedar hidup lalu mati dan sirna begitu saja. Manusia dicipta untuk berevolusi dan menyempurna, dengan kata lain manusia dengan ikhtiarnya sendiri dapat meraih kesempurnaan-kesempurnaan eksistensial yang menjadi tujuan penciptaannya. Tanpa potensi, manusia mustahil dapat meraih semua itu, tetapi karena Tuhan telah menciptakan manusia dengan segala potensi yang diperlukan maka, bukan hanya tidak mustahil melainkan juga menjadi sebuah keniscayaan yang tak terelakkan. Kendati demikian, manusia dapat berikhtiar dan memilih jalan “kedekatan” dengan Tuhan (aspek jamaliyah) atau jalan “menjauh” dari Tuhan (aspek jalaliyah).

Guna berevolusi dan menuju kesempurnaan, manusia mesti tahu mana kebaikan dan mana keburukan dan semua itu dapat diketahui dengan akalnya. Meskipun demikian, teramat banyak perkara-perkara yang tidak terjangkau dengan hanya mengandalkan akal dan sensasi. Manusia memang telah dibekali setumpuk potensi dan instrumen, namun semua itu memiliki keterbatasan. Kenyataan ini tak dapat dipungkiri! Lalu bagaimana dengan tujuan penciptaan manusia? Bisakah manusia menyempurna dalam penghambaan dengan seluruh keterbatasannya? Apakah hal ini bukan sebentuk kontradiksi dalam tujuan penciptaan manusia?

Kebijakan dan keadilan Tuhan tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Tuhan Maha bijak dan adil, olehnya itu mustahil melakukan perbuatan yang sia-sia, ketika Tuhan menghendaki kesempurnaan manusia, maka tentu Tuhan telah membekali segala potensi dan instrumen yang diperlukan untuk teraktualnya tujuan tersebut.

Potensi-potensi yang ada pada diri manusia akan teraktual dan menyempurna dengan Wahyu, baik secara langsung maupun dengan perantaraan manusia-manusia lainnya (para Rasul). Setiap masa tidak pernah sepi dan kosong dari utusan atau wakil Tuhan yang bertugas membimbing serta menuntun umat manusia kearah jalan yang lurus hingga meraih kesempurnaan abadinya, mulai dari perkara-perkara kecil duniawi hingga perkara-perkara spiritual ukhrawi. Bimbingan dan tuntunan itu diperoleh manusia sejak masa Nabi Adam As hingga penutup para Nabi, Muhammad Saw.

Konsep Imamah Syiah

Imamah adalah suatu konsep kepemimpinan yang meneruskan kepemimpinan Tuhan di muka bumi setelah kepergian Nabi terakhir. Imamah merupakan bentangan dari nubuwah, olehnya itu, seluruh argumen yang mengharuskan kehadiran seorang Nabi atau Rasul, berlaku pula atas keberadaan seorang Imam. Wahyu dalam pengertian khasnya, telah sempurna dan tidak turun lagi dengan meninggalnya Nabi Islam Muhammad Saw, tetapi Wahyu tetap saja memerlukan pengawal atau penjelas (penafsir) yang memiliki kesucian dan kapabilitas yang sama dengan kesucian dan kemampuan Nabi agar terhindar distorsi dan segala bentuk penyimpangan. Tugas lebih lanjut ini diperankan oleh para Imam (wakil Tuhan) yang dianugrahi kesucian (ishmah) sebagaimana Nabi, dengan kata lain memiliki tingkat kemaksuman yang setara dengan kemaksuman Rasulullah Saw, dan satu-satunya Wujud yang mengetahui kemaksuman seseorang adalah Allah Swt (dan atau manusia maksum lainnya dengan izin Allah Swt). Olehnya itu, Syiah Imamiyah meyakini bahwa Imam atau Khalifah Nabi adalah orang yang ditunjuk dan dilantik langsung oleh Allah Swt. Poin ini merupakan salah satu poin penting yang membedakan Syiah Imamiyah dengan keyakinan mazhab Islam lainnya.

Konsep Hari Kebangkitan (Ma’ad) Syiah

Sebagaimana tauhid dan kenabian, keyakinan kepada hari kebangkitan atau ma’admerupakan keyakinan pasti dan definitif setiap muslim. Seluruh kaum muslimin mengimani dan meyakini prinsip akidah ini, tak terkecuali Syiah. Bahkan menurut Muthahhari (salah seorang ulama kontemporer Syiah), keyakinan kita terhadap adanya hari kebangkitan (ma’ad), di samping melalui dalil-dalil naqli, meliputi Al Quran dan Riwayat-riwayat (hadis-hadis), dapat pula dibuktikan dengan inferensi dan argumentasi rasional (pembahasan lebih terperinci tentang pokok-pokok bahasan ini dapat di baca dalam buku-buku Murtadha Muthahari serta buku-buku yang telah disebutkan sebelumnya, dan tentu saja deretan kitab-kitab lainnya yang tidak disebutkan).

Tema-tema di atas menampilkan sebuah sistematisasi logis yang konsisten, betapa tidak konsep ma’ad atau hari kebangkitan dengan mudah dapat kita terima manakala kita memahami dan menerima konsep imamah dan nubuwah, imamah dan kenabian sendiri ibarat satu koin dengan dua sisi, seluruh argumentasi rasional pembuktian imamah dapat dirujukkan pada argumentasi pembuktian (perlunya) kenabian. Dan keduanya bersandar kokoh pada sifat-sifat sempurna Tuhan, khususnya sifat adil dan sifat bijak Ilahi. Sifat-sifat Tuhan sendiri merupakan refleksi atau manifestasi dari Wujud Mutlak (tauhid) Ilahi, Allah Swt.

Salah satu poin yang terpahami oleh saya ialah bahwa ketika Allah Swt memiliki sifat-sifat tinggi seperti Maha Adil (‘Adil) dan Maha Bijaksana (Hakim), sementara Dia adalah wujud yang kekal dan abadi, maka mustahil ke-Maha adilan dan Ke-Maha Bijaksanaan itu hanya berlaku dan terbatas pada masa dan tempat tertentu, artinya Allah Swt adalah Maha bijak dan Maha adil sejak menciptakan makhluk pertama hingga detik ini dan selamanya! Jika demikian adanya, berarti seluruh argumentasi rasional yang berlaku dalam pembuktian keniscayaan dan urgensi Nubuwah(kenabian) dan Imamah (kepemimpinan) akan berlaku pula selama masih ada ciptaan yang bernama Manusia! Sebab jika tidak berlaku, maka kemutlakan dan keabadian sifat Bijak dan sifat Adil Tuhan menjadi dipertanyakan, lantaran menciptakan kesia-siaan dan kezaliman yang bertolak belakang dengan tujuan penciptaan manusia oleh diri-Nya sendiri. Dan hal ini sangat mustahil! Sehingga dapat dipastikan bahwa sampai detik ini pun Allah Swt memiliki wakil dan utusan yang ditugaskan membimbing dan menuntun manusia menuju kesempurnaan wujud dan penciptaannya. Perkara apakah kita mengenali dan mengimaninya, itu kembali kepada keputusan kita sendiri. Dan keputusan kita, tidak mengubah kebijakan dan keadilan Tuhan.

Ketika kita telah memiliki pijakan rasionalnya, langkah selanjutnya adalah mencari keselarasan dan kesesuaiannya dengan teks-teks religius-historis yang bertebaran di hadapan kita. Di tengah-tengah hamparan teks-teks religius yang terjangkau – dan  yang terpenting diantaranya adalah mu’jizat Al Quran yang telah dijamin otentisitasnya – kita melihat ada yang selaras dan sejalan dengan apa yang kita simpulkan dengan argumen rasional dan ada pula yang terlihat bertentangan, serta “abu-abu”.

Menurut hemat saya, tindakan paling logis adalah memilih keyakinan yang mencerminkan kesesuaian dan keselarasan antara teks dan rasionalitas. Akidah Syiah, khususnya rumusan usuluddin atau usulul mazhab mereka, memadukan secara sempurna antara rasionalitas dan teks-teks religius. Argumen rasional mereka prihal keniscayaan imamah pasca nubuwah yang berkorelasi langsung dengan sifat adil dan sifat bijak Tuhan, nampak begitu selaras dan bersesuaian dengan ayat-ayat suci Al Quran seperti Q.S. Al Baqarah : 124, Q.S. An Nisa : 59, Q.S. Al Maidah : 55, Q.S. At Taubah : 119, Q.S. As Syuwari : 23 dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya seperti ayat yang menyatakan kesucian Ahlul bait Nabi Saw, begitu pula riwayat-riwayat atau hadis yang dikenal dengan hadis Tsaqalain, peristiwa al Ghadir dll. Tentu saja pembahasan terkait ayat-ayat dan riwayat di atas membutuhkan waktu dan tempat yang lebih banyak, kita dapat merujuknya di berbagai kitab! []

[Mustafa Husain]

Sumber: http://bagendaali.com/

user comment
 

latest article

  Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1438 H Jatuh pada Sabtu 27 Mei 2017
  Ucapkan Selamat Berpuasa, Presiden Ajak Tingkatkan Rasa Persaudaraan dan Persatuan
  Hari Pertama Majelis Tilawah bersama Rahbar di Husainiyah Imam Khomeini Teheran
  Ribuan Rakyat Yaman Kecam Terorisme AS di Yaman
  Insiden Serangan Aparat ke Kediaman Syaikh Isa Qasim Tewaskan 2 Warga
  ISIS Klaim Pelaku Bom Bunuh Diri di Manchester Inggris
  Kiai Said dan Habib Luthfi Masuk Muslim Paling Berpengaruh Dunia 2017
  Majma Jahani Ahlul Bait as Kecam Keras Rezim Ali Khalifah atas Kekerasan yang Terjadi di Bahrain
  Iran Layak Disebut Negara Islam
  Qari Iran Raih Peringkat Terbaik di MTQ Internasional Malaysia