Indonesian
Thursday 25th of May 2017
code: 81806
Ulama-ulama Islam Harus Mampu Menjawab Tantangan Zaman

ulama marja taklid Ayatullah al-Uzhma Nashir Makarim Shirazi dalam pertemuan dengan para asatid Hauzah Ilmiah Qom di auditorium Madrasah Imam Kadzhim di Qom Republik Islam Iran senin (8/5) mengatakan, "Banyak hal-hal baru di era sekarang, yang membutuhkan jawaban dan penentuan hukum dalam masalah fiqih khususnya yang berkenaan dengan muamalah yang terjadi di internet dan dunia maya."

 

"Dulu, ilmu-ilmu humaniora, filsafat dan beragam cabang ilmu lainnya dapat dirangkum dalam satu kitab, termasuk didalamnya pembahasan mengenai ilmu filsafat dari Yunani kuno. Itu disebabkan ilmu-ilmu saat itu belum terlalu berkembang dan cakupannya masih sangat terbatas. Namun sangat berbeda dengan kondisi yang terjadi saat ini. Perkembangan dan kemajuan ilmu berkembang begitu pesat." Ungkapnya. 

 

Lebih lanjut, guru besar Hauzah Ilmiah Qom tersebut berkata, "Hari ini, ilmu-ilmu sains seperti kedokteran, fisika, kimia dan seterusnya memiliki cabang-cabang ilmu baru yang begitu beragam dan semakin banyak. Hal tersebut tentu menjadi tantangan dalam dunia fikih Islam. Ma'rifat Islam yang memiliki tiga cabang utama yaitu aqidah, ahkam dan akhlak dituntut mampu mengimbangi kemajuan ilmu pengetahuan dan sains tersebut."

 

Ayatullah Makarim menegaskan, "Kemajuan dan perkembangan ilmu humaniora dan sains tersebut, mau tidak mau juga akan mempengaruhi kemajuan dan perkembangan dalam ilmu fikih. Sebab dalam keyakinan kita, fikih mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan kita sehari-hari mulai dari lahir sampai akhir hayat. Kondisi kekinian, dengan semakin peliknya persoalan kehidupan sehari-hari, khususnya bagi muslim yang menetap di negara-negara non muslim, maka tentu harus ada istinbat (keputusan) dan rumusan-rumusan baru dalam ilmu fikih."

 

Penulis kitab tafsir al-Amtsal tersebut lebih lanjut menambahkan, "Berbagai bentuk muamalah baru dan bisnis di dunia internet tentu menuntut adanya hukum baru dalam fikih. Hal tersebut membutuhkan ketelitan dan kesungguhan dalam mengkajinya. Para ulama dan asatid, dituntut untuk mampu memberikan jawaban dari masalah dan problema-problema yang muncul dari bentuk muamalah-muamalah baru tersebut."

 

"Setelah Republik Islam Iran berdiri yang merupakan hadiah dan anugerah besar bagi bangsa ini, timbul persoalan-persoalan baru yang harus mendapat jawaban dan dan rumusan penyelesaian. Karenanya, dibutuhkan kesungguhan, keseriusan dan kerja keras dalam hal ini. Setidaknya dalam menyikapi masalah-masalah baru terdapat tiga aliran yang memberikan jawaban yang berbeda-beda. Kelompok yang pertama, kelompok jumud yaitu kelompok yang memberi jawaban pamungkas. Setiap menghadapi persoalan baru yang belum ada jawabannya pada rumusan-rumusan fikih ulama-ulama yang terdahulu, maka mereka menjawab, masalah tersebut bukan urusan kita untuk menyelesaikan dan menjawabnya. Yang punya hak untuk menjawab hanyalah Imam Zaman afs. Tentu saja, jawaban tersebut tidak bisa diterima sepenuhnya, sebab telah menjadi tanggungjawab bagi Hauzah Ilmiah untuk memberikan jawaban atas semua persoalan umat yang ada." Jelasnya. 

 

"Kelompok yang kedua adalah kelompok liberal. Yang memberi jawaban bahwa hukum dan fikih Islam hari ini tidak sesuai lagi dengan zaman dan sudah seharusnya ditinggalkan. Misalnya mereka berpendapat, bahwa dalam hukum warisan, seharusnya laki-laki dan perempuan mendapatkan jumlah yang sama. Begitupun dalam keputusan cerai, tidak seharusnya hanya berada di tangan laki-laki sepenuhnya, namun juga bisa berada pada keputusan perempuan. Menurut mereka, kondisi laki-laki dan perempuan dimasa lalu dengan sekarang berbeda. Sekarang yang ada adalah tuntutan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam semua hal. Contoh lainnya, puasa bagi muslim yang menetap di negara yang memiliki waktu siang yang sangat panjang. Mereka dengan tanpa dalil berpendapat, dalam kondisi tersebut muslim mendapat keringanan untuk tidak berpuasa." Tambahnya.

 

Ayatullah Makarim melanjutkan, "Kelompok ketiga adalah kelompok pertengahan. Kelompok yang seperti dokter ahli bedah, yang mengawali penyelesaian masalah dengan mendiagnosanya terlebih dahulu. Mereka merujuk pada rumusan-rumusan dalam ilmu ushul untuk memberi jawaban pada persoalan-persoalan yang baru dengan meneliti dan mengkajinya dengan begitu mendalam dan serius. Mereka menghabiskan usia mereka dalam kerja-kerja penelitian dan ilmiah. Merekalah tentara-tentara Imam Zaman afs yang sesungguhnya yang menjaga ushul mazhab dan agama ini. Mereka berdiri tegak untuk menjawab tantangan zaman."

 

Dibagian akhir pembicaraannya, ulama marja taklid tersebut menasehatkan kepada para asatid yang hadir, "Karena itu kerja-kerja intelektual yang kalian kerjakan di Hauzah Ilmiah harus terus dilanjutkan dan dikembangkan. Kerjakanlah penelitian dengan cara berkelompok. Sebab dengan berkelompok, penelitiannya bisa lebih maksimal dan bisa lebih mengurangi adanya kesalahan. Hari ini, kelompok anti dan phobia pada Islam khususnya pada Syiah semakin menjamur. Karena itu, niatkanlah kerja-kerja kalian sebagai bentuk perkhidmatan pada Islam. Keberadaan di dunia Hauzah adalah kehormatan sekaligus anugerah, karena itu manfaatkanlah sebaik-baiknya." 

user comment
 

latest article

  ISIS Klaim Pelaku Bom Bunuh Diri di Manchester Inggris
  Kiai Said dan Habib Luthfi Masuk Muslim Paling Berpengaruh Dunia 2017
  Majma Jahani Ahlul Bait as Kecam Keras Rezim Ali Khalifah atas Kekerasan yang Terjadi di Bahrain
  Iran Layak Disebut Negara Islam
  Qari Iran Raih Peringkat Terbaik di MTQ Internasional Malaysia
  Peringatan Hari Nakbah ke-69 Diwarnai Kericuhan
  Ulama Marja Taklid Serukan Rakyat Iran Berpartisipasi dalam Pemilu
  Pilpres Iran ke-12 Resmi Diadakan Hari ini
  Dunia Islam Harus Sadar, Rezim Saudi Berusaha Menghalangi Jalan Allah
  Menag Perintahkan Pimpinan PTKIN Cegah Faham Radikal Di Kampus