Indonesian
Friday 21st of July 2017
code: 81991
Puluhan Ribu Massa Gelar Demonstrasi Anti Erdogan di Turki

puluhan ribu orang memadati aksi unjuk rasa kelompok oposisi di Istanbul, Turki, ahad (9/7). Aksi ini adalah pengumpulan massa terbesar dalam beberapa tahun terakhir oleh kelompok yang berseberangan dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Lautan manusia memenuhi sebuah lapangan di wilayah Maltepe, sisi Asia Istanbul yang mengakhiri aksi yang disebuta "Jalan Keadilan". Aksi ini merupakan akhir dari sebuah "long march" sejauh 450 kilometer dari Ankara ke Istanbul yang dilakukan pemipin Partai Rakyat Republik (CHP) Kemal Kilicdaroglu.

Kilicdaroglu mulai berjalan kaki dari Ankara pada 25 hari lalu untuk meprotes penangkapan salah seorang anggota parlemen CHP. Aksi jalan kaki ini dengan cepat menjadi sebuah aksi unjuk rasa besar yang menentang ketidakadilan di bawah pemerintahan Erdogan.

"Tak seorang pun boleh berpikir bahwa aksi ini adalah yang terakhir. Aksi ini adalah langkah pertama," kata Kilicdariglo di hadapan massa pendukungnya. "Semua orang harus tahu bahwa 9 Juli merupakan sebuah sejara baru, kelahiran baru," tambah Kilicdaroglu.

Unjuk rasa ini adalah aksi oposisi terbesar di Istanbul sejak unjuk rasa anti-Erdogan yang dipicu rencana renovasi taman Gezi pada Mei-Juni 2013. Biasanya, hanya Erdogan yang mampu mengumpulkan massa dalam jumlah besar dan Erdogan juga pernah mengumpulkan massa di kawasan Maltepe ini.

user comment
 

latest article

  Terkena Wabah Kolera, Penderitaan Rakyat Yaman Makin Bertambah
  Pemerintah Sudah Tepat Bubarkan HTI
  Ulama Sulsel Bahas Perppu Ormas dengan Presiden
  Pernyataan Sikap Ormas Islam Ahlulbait Indonesia (ABI) Tentang Kebrutalan Rezim Zionis Di Masjid Al-Aqsa
  Majelis Ulama Bahrain Keluarkan Pernyataan Keras Tolak UU Keluarga yang Disahkan Parlemen
  Pesan Kiai Said dalam Halal Bihalal Muslimat NU
  Dukungan kepada Teroris, Hakikat Utama AS
  Saudara Raja Salman Meninggal Dunia
  Peringati 72 Tahun Kemerdekaan RI, Presiden Jokowi Ingin Ada Dzikir Akbar di Halaman Istana
  Nabil Muddhat menjadi Perempuan Pertama Komandan Militer di Suriah