Indonesian
Sunday 20th of August 2017
code: 82067
Kejumudan dan Pencerahan Pemikiran dalam Perspektif Muthahhari

Kita saat ini berada di hari-hari penuh berkah di bulan Rajab. Rajab adalah bulan istimewa yang telah dihadiahkan oleh Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya untuk mendekatkan diri kepada-Nya melalui doa dan bermunajat. Sebagian hari di bulan Rajab dihiasi dengan hari-hari istimewa berkenaan dengan Ahlul Bait Nabi Muhammad Saw. Hari-hari itu merupakan kesempatan yang tepat untuk berpikir dan mengkaji tentang sirah dan peran manusia-manusia suci keturunan Nabi Muhammad Saw supaya kita dapat menemukan jalan kehidupan yang selamat dan bahagia.

 

Pada tanggal 10 Rajab 195 Hijriah,lahirlah Imam Muhammad Taqi al-Jawad as di kota Madinah. Sungguh kita sangat bersyukur kepada Allah Swt atas kelahiran manusia besar tersebut, di mana cahaya keberadaan beliau telah menyinari dunia sehingga manusia dapat merujuk kepada sumber ilmu, akhlak dan kebaikan tersebut dalam menghadapi ujian dan tantangan kehidupan, serta menjadikan beliau sebagai teladan hidup. Imam-imam suci Ahlul Bait as bukan hanya pemimpin agama, tetapi juga pembimbing bagi semua manusia yang mencari kebahagiaan dan keselamatan.

 

Dalam tulisan singkat ini, akan dibahas sekilas tentang kehidupan Imam Jawad as dan nasihat beliau tentang persahabatan dalam masyarakat dan cara menguatkannya. Setelah kesyahidan ayah beliau, Imam Ali Ridha as, Imam Jawad as memegang tanggung jawab besar sebagai pemimpin kaum Muslimin meskipun beliau masih kecil. Selama 17 tahun keimamahannya, Imam Jawad as selalu berusaha mengembangkan ilmu-ilmu keislaman.

 

Imam Jawad as juga dikenal sangat dermawan dan dengan alasan inilah beliau dijuluki sebagai "Jawad" yang berarti sangat dermawan dan murah hati.Meski kehidupan beliau di dunia sangat singkat, namun kedermawanan beliau telah memenuhi keperluan orang-orang yang membutuhkan. Ucapan dan perilaku beliau telah memberikan pelajaran berharga bagi kehidupan individu dan sosial tentang bagaimana caranya bersahabat dan berinteraksi dengan orang lain.

 

Manusia adalah makhluk sosial, di mana untuk memenuhi kebutuhan material dan spiritualnya, ia harus berinteraksi satu sama lain. Ia tidak akan mampu mengungkap kemampuannya tanpa menjalin hubungan dengan orang lain. Semua manusia membutuhkan interaksi dengan orang lain, di mana cara terbaik untuk menjalin hubungan tersebut adalah melalui persahabatan.

 

Manusia yang tidak mencicipi nikmatnya persahabatan dan interaksi dengan sesamanya, ia akan terasing dan merasa sendirian. Orang seperti itu tidak akan mengalami perkembangan intelektual dan bahkan kehilangan kebahagiaannya. Terkait hal itu, Imam Jawad as berkata, "Pertemuan dan interaksi dengan teman-teman akan menyebabkan keceriaan dan berkembangnya akal meskipun pertemuan tersebut hanya sebentar." (Muntaha al-Amal, Qummi, Juz 2, Halaman 229).

Persahabatan dan interaksi dengan orang lain akan kekal jika karena Allah Swt, sebab, hal itu dilandasi hanya karena keridhaan-Nya. Persahabatan seperti itu akan menyediakan ruang bagi tumbuh dan sempurnanya masyarakat. Mengenai persahabatan sejati, Imam Jawad as berkata, "Barang siapa menemukan persaudaraan dan persahabatan di jalan Allah Swt maka ia akan memperoleh rumah di surga."

 

Ucapan agung Imam Jawad as tersebut menunjukkan kebenaran bahwa persahabatan yang didasari pada keridhaan Allah Swt akan mendapat pahala surga dan berbagai nikmat akhirat lainnya. Manusia yang menjalin hubungan dan komunikasi dengan orang-orang baik, maka perbuatan baik dan kebiasaan terpuji akan semakin tertanam kuat dalam jiwanya sehingga akan mencapai kebahagiaan dan keselamatan.

 

Dari ucapan Imam Jawad as tersebut juga dapat dipahami bahwa manusia harus waspada dan selektif dalam memilih sahabat yaitu sahabat yang dekat dengan Allah Swt. Oleh sebab itu, kita sangat ditekankan untuk menjauhi orang-orang yang tidak beriman dan tidak layak sebagai sahabat, karena mereka dapat menjauhkan kita dari Allah Swt. Imam Jawad as mengibaratkan hal itu seperti menghindar dari ketajaman pedang. Beliau berkata, "Jauhilah berteman dengan orang-orang yang buruk. Sungguh mereka itu laksana pedang yang tajam. Lahirnya tampak baik namun tindakannya bisa berakibat buruk". (Muntaha al-Amal, Qummi, Juz 2, Halaman 228).

 

Di bagian lain perkataannya, Imam Jawad as melarang masyarakat untuk duduk bersama dengan orang-orang yang jahat karena dapat menimbulkan prasangka buruk tentang orang-orang baik. Beliau berkata, "Berkumpul bersama orang-orang yang jahat dan berprilaku buruk, bisa menimbulkan prasangka negatif terhadap orang-orang yang baik".Imam Jawad as juga menyinggung tentang berbagai faktor dalam ucapan dan perilaku untuk menguatkan persahabatan.

 

Selain itu, orang mukmin harus menghindari segala bentuk perbuatan yang dapat menyakiti hati teman-temannya. Seseorang laki-laki datang kepada Imam Jawad as dengan penuh keceriaan. Lalu beliau bertanya kepada orang itu tentang penyebab kebahagiaannya. Orang itu berkata, "Yabna Rasulullah, aku mendengar dari ayahku yang berkata, `hari terbaik bagi seorang hamba untuk berbahagia adalah hari ketika ia mendapatkan taufik untuk berbuat baik dan berinfak kepada teman-temannya.` Dan hari ini, 10 teman dan saudara seagamaku yang fakir datang kepadaku, aku telah memberikan sesuatu kepada masing-masing mereka, oleh sebab itu aku bahagia."

 

Mendengar jawaban laki-laki tersebut, Imam Jawad as berkata, "Anda layak untuk bahagia, namun dengan syarat Anda tidak menghapusnya dengan mengungkit-ungkit hal itu. "Beliau kemudian membacakan Surat al-Baqarah Ayat 264, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu batalkan sedekah-sedekahmu(pahala-pahalanya) dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan (si penerima hingga menjadi terhapus)."

Musyawarah dalam urusan-urusan tertentu adalah salah satu faktor untuk memperkuat persahabatan dan interaksi. Karena manusia kadang kala tidak mampu memutuskan satu hal sendirian, maka ia perlu bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya yang memiliki pemikiran cemerlang dan saleh. Ia dapat memanfaatkan pandangan-pandangan mereka untuk memajukan tujuannya.

 

Terkait hal itu, Imam Jawad as mengatakan, "Ada tiga hal dalam setiap manusia yang pekerjaannya tidak akan disesali: tidak tergesa-gesa dalam pekerjaannya, musyawarah dan satu pemikiran dengan teman-teman dan keluarganya serta bertawakal kepada Tuhan ketika memutuskan untuk melakukan pekerjaannya itu."

 

Dalam musyawarah, kita tidak hanya diuntungkan dengan memanfaatkan pandangan-pandangan sahabat kita, tetapi musyawarah itu juga merupakan bentuk penghormatan kepada mereka, di mana penghormatan kepada orang lain akan meningkatkan kecintaan mereka kepada kita dan pada akhirnya akan memperkuat persahabatan.

 

Cara lain untuk memperkuat persahabatan adalah menarik simpati teman-teman dan sahabat kita dengan menjaga perilaku dan ucapan kita dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan mereka. Imam Jawad as berkata, "Anda tidak akan pernah mampu membuat ridha masyarakat dengan harta dunia. Oleh karena itu, berusahalah untuk membuat mereka ridha dengan perilaku yang baik."

 

Sikap dan perilaku yang baik laksana hujan di musim semi yang akan menumbuhkan keteduhan, kedamaian dan kebahagiaan. Terkadang pertemuan dengan teman akan menimbulkan perubahan dalam diri kita dan kelanjutan dari komunikasi tersebut akan memperdalam persahabatan. Hal itu juga akan memperkuat interaksi di antara masyarakat Islam. Maksumin as termasuk Imam Jawad as menilai ikatan batin dan kasih sayang satu sama lain sebagai hal yang sangat penting, bahkan hal itu mampu memberikan daya tarik masyarakat kepada Islam.

 

Imam Ahlul Bait as telah menyelesaikan banyak persoalan di masyarakat. Mereka membimbing dan membantu masyarakat untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi.Baker bin Salehmengatakan, "Aku menulis sebuah surat kepada Imam Jawad as. Aku menceritakan padanya bahwa ayahku bukanlah seorang muslim. Ia juga seorang yang sangat keras dan otoriter. Sikapnya padaku sebagai pengikut Ahlul Bait as juga sangat keras.Tolong berdoalah untukku dan apa yang mesti aku lakukan? Apakah aku harus bersikap lunak kepada ayahku ataukah aku harus meninggalkannya?"
 

Dalam jawaban suratnya, Imam Jawad as menulis, "Aku mengerti maksud suratmu tentang ayahmu. Aku juga selalu berdoa untukmu. Ketahuilah bahwa bersikap lunak itu lebih baik. Dalam kesulitan juga ada kemudahan. Bersabarlah, karena akhir yang baik adalah milik orang-orang yang bertakwa. Insyaallah, Tuhan akan selalu meneguhkan langkahmu". Baker bin Saleh kemudian mengatakan, "Setelah itu, berkat doa Imam Jawad as, Allah swt mengubah hati ayahku menjadi sangat penyayang. Sampai-sampai ia tak pernah menentang apa yang kulakukan". (/RA/NA)

user comment
 

latest article

  Dosa yang Mendatangkan Dosa Lain
  Wara’ Dan Takwa (1)
  Kisah Tiga Sahabat Seperguruan; Pendiri dan Pejuang Kemerdekaan
  Wara’ Dan Takwa (3)
  SYUKUR AKTUAL
  DIMANAKAH LETAK KEINDAHAN MANUSIA?
  Inqitha’ Kepada Allah SWT
  SYUKUR AKTUAL
  Gus Mus dan Akhlak yang Hilang dari Kita
  Rahasia Jeritan Ayatullah Behjat Ketika Mengucapkan Salam dalam Shalat