Indonesian
Monday 11th of December 2017
code: 82250
Imam Husein as Menurut Riwayat Ibnu ‘Asâkir[1]

Sebelum kita mengikuti lebih lanjut riwayat seorang sejarawan kaliber ini berkenaan dengan Imam Husein as, ada baiknya kita mengetahui biografinya meskipun secara sekilas.

Siapa Ibnu ‘Asâkir itu?[2]

Ia dilahirkan pada tanggal 1 Muharram 499. Nama lengkapnya adalah Ali bin Al-Hasan bin Hibatullah bin Abdullah bin Al-Husein. Ia pindah ke Irak pada tahun 520 H. Pada tahun 521 H., ia mendapatkan taufik untuk melaksanakan haji ke Baitullah, dan kemudian pada tahun 529 H., pindah ke Khurâsân (Iran) dengan melalui negara Azerbeijân.

Jumlah gurunya, baik laki-laki maupun wanita adalah 1.716 orang. Ia banyak menulis buku dan orang yang tak tertandingi kedalaman ilmunya pada masanya.

Ia meninggal dunia pada malam Senin, tanggal 11 Rajab 571 H. Jenazahnya disalati oleh Al-Qutb An-Nisâbûrî dan dihadiri oleh raja yang berkuasa kala itu. Ia dikuburkan di samping sang ayah di Damaskus, Syiria.

Siapa Imam Husein as?

Nama : Al-Husein.

Diriwayatkan bahwa ketika Al-Hasan lahir, Imam Ali as memberinya nama “Hamzah”, dan ketika Al-Husein lahir, beliau memberinya nama “Ja’far”.

Beliau bercerita, “Setelah itu, Rasulullah SAWW memanggilku seraya bersabda, “Aku diperintahkan untuk merubah nama kedua putraku ini!” Kemudian beliau memberi mereka masing-masing nama “Hasan” dan “Husein”.

Al-Hasan dan Al-Husein adalah dua nama surga yang tidak pernah terdapat di zaman Jahiliah.

Nama Ayah : Amirul Mukminin Ali bin Abi Tâlib bin Abdil Muttalib bin Hâsyim bin Abdi Manâf bin Qusai Al-Qurasyi Al-Hâsyimî Al-Muttalibî At-Tâlibî as.

Nama Ibu : Fâtimah Az-Zahrâ`, putri Rasulullah SAWW.

Tanggal Lahir : Bulan Sya’bân 4 H.

Menurut sebuah pendapat yang dapat lebih dipertanggungjawabkan bahwa beliau dilahirkan di akhir bulan Rabi’ul Awwal. Hal itu dikarenakan Imam Hasan as dilahirkan pada tanggal 15 Ramadân dan menurut kesepakatan Ahlul Bayt as, beliau dilahirkan setelah 6 bulan 10 hari dari kelahiran Imam Hasan as.

Tempat Lahir : Madinah Al-Muwarah.

Tanggal Syahadah : Hari Sabtu atau Jumat, 10 Muharram 61 H.

Tempat Syahadah : Karbalâ` (Nainawâ atau Al-Ghâdiriyah).

Umur : 56 tahun 9 bulan 10 hari.

Perlakuan dan Hadis Rasulullah SAWW

Telah menjadi rahasia umum di kalangan sahabat bahwa Rasulullah SAWW sangat mencintai kedua cucunya tersebut. Hal ini jelas tidak didasari oleh dorongan hawa nafsu belaka sebagaimana kebanyakan para kakek mencintai cucu-cucunya. Karena beliau adalah ma’sûm yang semua perilakunya didasari oleh bimbingan wahyu Ilahi.

Banyak sabda yang telah dinukil dari beliau berkenaan dengan sang cucu yang satu, di antaranya:

a. “Husein adalah dariku dan aku adalah dari Husein, Allah mencintai orang yang mencintai Husein...”.

b. Ketika Rasulullah SAWW sedang melaksanakan sujud dalam salat, Hasan dan Husein as menaiki beliau. Beliau tidak mengangkat kepalanya dari sujud sehingga mereka turun sendiri. Setelah selesai melaksanakan salat, beliau memangku kedua cucu tercinta tersebut seraya bersabda, “Barangsiapa mencintaiku, maka cintailah kedua cucuku ini”.

c. “Hasan dan Husein adalah dua buah hatiku di dunia ini”.

d. “Hasan dan Husein adalah penghulu para pemuda penghuni surga”.

e. Pada suatu hari Rasulullah SAWW keluar dari rumah A’isyah. Ketika melewati rumah Fâtimah as, beliau mendengar suara isak tangis Al-Husein as. Seketika itu juga beliau berkata kepada putri tercintanya, “Apakah engkau tidak tahu bahwa isak tangisnya membuatku tersiksa?”

f. Rasulullah SAWW pernah berpesan kepada para istri beliau dengan sabda, “Jangan kalian membuat anak ini (Al-Husein) menangis”.

g. “Barangsiapa mencintai keduanya (Al-Hasan dan Al-Husein), maka aku mencintainya, barangsiapa telah kucintai, maka Allah mencintainya, dan barangsiapa telah dicintai oleh Allah, niscaya Ia akan memasukkannya ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan. Barangsiapa membenci mereka atau berbuat zalim terhadap mereka, maka aku membencinya, barangsiapa telah kubenci, maka Allah membencinya, dan barangsiapa yang dibenci oleh Allah, niscaya Ia akan memasukkannya ke dalam neraka Jahannam dan baginya siksa yang kekal”.

Imam Husein as dan Peristiwa Karbala`

Ketika Mu’âwiyah dijemput ajalnya pada tanggal 15 Rajab 60 dan mayoritas penduduk berbai’at kepada Yazîd, ia bersama Abdullah bin ‘Amr bin Uwais Al-‘A^mirî menulis surat kepada Al-Walîd bin ‘Utbah bin Abi Sufyân, Gubernur Madinah kala itu, supaya mengambil bai’at dari penduduk Quraisy, kususnya para pemuka mereka, dan orang pertama yang harus segera berbai’at adalah Imam Husein bin Ali as. Begitu surat itu sampai ke tangannya, pada waktu itu juga (pertengahan malam) Al-Walîd bin ‘Uqbah mengutus utusan kepada Imam Husein as. Beliau menolak tawaran untuk berbai’at lalu keluar pada malam itu juga dari Madinah menuju Makkah. Hal ini beliau lakukan karena kota Makkah bisa dibilang relatif aman dari krisis intern kala itu.

Tidak diragukan lagi bahwa menolak paksaan bai’at dan keluar dari kota Madinah dengan sembunyi-sembunyi tersebut sangat membuat pemerintah dan seluruh kroninya gusar dan merasa terancam. Oleh karena itu, mereka telah melakukan usaha teror terhadap Imam Husein as di Makkah ketika orang-orang sedang berdesakan melaksanakan ibadah haji. Dalam sebuah sumber disebutkan bahwa Yazîd menebarkan orang-orang yang siap untuk menteror beliau meskipun beliau menggantungkan diri di tirai-tirai Ka’bah.

Imam Husein as telah mengetahui semua rencana teror itu, dan beliau tidak menginginkan terjadi pertumpahan darah di tanah Haram itu. Oleh karena itu, beliau mempersiapkan diri untuk keluar dari kota Makkah menuju Irak bersama dengan para anggota keluarga dan 60 orang dari penduduk Kûfah. Hal ini, jelas, tidak dikehendaki oleh para penguasa kala itu. Karena mereka tahu bahwa kota Kûfah adalah basis perjuangan para pengikut dan pencinta Ahlul Bayt as. Dengan demikian, mereka seharusnya memikirkan solusi atas tekad Imam as untuk keluar menuju Irak.

Banyak sekali para penduduk yang “menasehati” Imam Husein as untuk tidak keluar menuju Irak, baik kerabat atau orang jauh, tuda atau muda, lelaki atau wanita, teman atau musuh, dan sahabat atau tabi’î. Alasan mereka adalah satu. Yaitu, penduduk Irak adalah pengkhianat dan penipu, dan mereka telah berani membunuh ayah dan saudara beliau.

Abu Sa’îd Al-Khudrî berkata ketika menasehati beliau, “Wahai Abu Abdillah, aku perlu untuk menasehati kalian, karena aku mengkhawatirknan kalian. Aku mendengar berita bahwa Syi’ahmu di Kûfah telah menulis surat kepadamu supaya engkau berangkat ke Kûfah. Jangan pergi! Karena aku pernah mendengar ayahmu berkata ketika berada di Kûfah, “Demi Allah, aku telah lelah menghadapi mereka dan murka terhadap mereka, dan sebaliknya, mereka telah lelah menghadapiku dan murka terhadapku. Aku tidak pernah menemukan kesetiaan dari mereka...”. Demi Allah, mereka tidak memiliki keteguhan pendirian dan ketegaran menghadapi pedang”.

Imam as tidak memberikan jwaban atas nasehat Abu Sa’îd Al-Khudrî. Mungkin beliau masih menjaga perasaannya karena usianya yang sudah tua.

Abdullah bin ‘Ayyâsy bin Abi Rabî’ah, “Kemana engkau hendak pergi, wahai putra Fâthimah? Aku sungguh mengkhawatirkanmu. Sebenarnya engkau keluar menuju ke sebuah kaum yang telah rela membunuh ayah dan saudaramu...”.

Abu Wâqid Al-Laitsî berkata, “Aku mendengar Husein telah keluar (menuju Irak). Aku mengejarnya sehingga aku menjumpainya di Malal. Lalu kuminta supaya ia tidak keluar, karena ia keluar bukan pada waktunya keluar. Dengan demikian, ia akan membunuh dirinya sendirinya”. “Aku tak akan kembali!”, jawab beliau singkat.

Abu Bakar bin Abdurrahman bin Hisyâm berkata, “Hubungan keluargaku denganmu memaksaku untuk berbuat sesuatu terhadapmu. Akan tetapi, aku tidak tahu apa yang harus kunasehatkan kepadamu”.

Beliau menjawab, “Wahai Abu Bakar, engkau bukanlah orang yang hendak menipu dan tertuduh. Maka katakanlah!”

Ia melanjutkan, “Engkau telah mengetahui perbuatan penduduk Irak terhadap ayah dan saudaramu. Engkau ingin pergi kepada mereka, sedangkan mereka adalah hamba dunia. Orang yang telah berjanji untuk menolongmu akan tega memerangimu... Aku hanya ingin mengingatkanmu akan hal ini”.

Karena beliau merasa bahwa Abu Bakar bukanlah orang yang memiliki tujuan politis dalam hal ini, maka beliau menjawab nasehatnya dengan lemah lembut seraya berkata, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai putra pamanku. Engkau telah mengeluarkan pendapatmu. Apa yang telah ditentukan oleh Allah, pasti akan terjadi”.

Dan banyak lagi sahabat dan tabi’în yang mengajukan alasan serupa dengan tujuan untuk mencegah Imam Husein as supaya mengurungkan niatnya pergi ke Irak. Akan tetapi, beliau tidak bergeming sedikitpun dari keputusan yang telah diambilnya, dan hanya menjawab setiap penanyanya, “Ini adalah surat dan bai’at mereka!”

Keputusan itu beliau ambil karena beliau melihat bahwa tidak ada jalan lain untuk menghidupkan kembali Islam yang telah dirubah total oleh Bani Umaiyah menjadi Islam ala Jahiliah kecuali dengan pengorbanan jiwa dan pengucuran darah yang tak berdosa. Dengan kucuran darah itu kita masih dapat menikmati Islam hingga sekarang. Darah itu bak air segar yang menjadi sumber kehidupan ajaran-ajaran Islam.

Mengapa beliau harus berangkat ke Irak? Mengapa beliau harus terbunuh di Karbalâ? Mengapa beliau harus terbunuh? Dan mengapa ... mengapa ...?

Hal ini adalah rahasia Ilahi yang telah ditetapkan di alam sana. Banyak hadis-hadis yang telah meramalkan peristiwa itu. Di antaranya :

1. Imam Ali as bercerita, “Aku pernah bertamu ke rumah Rasulullah SAWW dan kulihat mata beliau berlinang air mata. Aku bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah ada orang yang memurkakan Anda? Apa yang sedang menimpa Anda sehingga mata Anda berlinang air mata?” Beliau menjawab, “Baru saja Jibril datang kepadaku dan ia memberikan kabar kepadaku bahwa Al-Husein akan terbunuh di tepi sungai Eufrat”.
2. Pada suatu hari Rasulullah SAWW sedang berada di rumah Ummi Salamah. Jibril as turun dari langit. Rasulullah SAWW berkata kepadanya, “Jangan kau izinkan siapapun masuk!” Tidak lama kemudian Al-Husein yang masih kecil datang merengek-rengek untuk menemui kakeknya. Ummi Salamah mencegahnya seraya menggendongnya supaya reda tangisannya. Ketika melihat tangisannya semakin keras, ia akhirnya melepaskannya masuk. Lalu ia masuk dan langsung duduk di pangkuan Rasulullah SAWW. Seketika itu juga Jibril as berkata kepada Nabi SAWW, “Sesungguhunya umatmu akan membunuh putramu ini”. Rasulullah SAWW keluar dari kamar sambil menggendong Al-Husein as dengan hati yang sedih. Beliau langsung menuju menemui para sahabat yang kala itu sedang duduk santai. Beliau bersabda kepada mereka, “Sesungguhnya umatku akan membunuh anak ini!” Di antara mereka juga terdapat Abu Bakar dan Umar.
3. Ketika Imam Ali as sampai di Nainawâ dalam perjalannya menuju Shiffîn, beliau langsung berseru, “Sabarlah, wahai Abu Abdillah! Sabarlah, wahai Abu Abdillah! Tepi sungai Eufrat!” Perawi bertanya, “Siapakah Abu Abdillah itu?” Beliau menjawab, “Suatu hari aku bertamu kepada Rasulullah SAWW dan kulihat mata beliau berlinangan air mata ... Beliau bersabda, “Baru saja Jibril as pergi dari sini. Ia memberitahukan kepadaku bahwa Al-Husein akan dibantai di tepi sungai Eufrat”.

Karbalâ, Kesedihan dan Bencana

Nama “Karbalâ” tidak pernah didengar oleh penduduk Arab sebelumnya. Kata ini mereka dengar dari mulut Rasulullah SAWW untuk pertama kalinya sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Sa’îd bin Jahmân. Ia berkata, “Malaikat Jibril as pernah datang menjumpai Rasulullah SAWW dengan membawa tanah dari sebuah desa tempat pembantaian Al-Husein as yang disebut “Karbalâ”. Seketika itu juga beliau bersabda, “Karbun wa balâ`! (Tanah duka dan bencana)”.

Di tanah inilah cucu tercinta Rasulullah SAWW dibantai bersama sekitar 70-an orang pengikutnya. Mereka rela mengorbankan jiwa dan raga demi menjaga Islam dari kebinasaan. Sekarang, apakah kita siap untuk meneruskan perjuangan mereka? Silakan Anda memilih!


Catatan Kaki:

[1] Makalah ini adalah cuplikan dari buku Al-Husein, Simâtuhu wa Sîratuh, karya Sayid Muhammad Ridhâ Al-Huseinî Al-Jalâlî yang memuat ringkasan biografi Imam Husein as berdasarkan riwayat Ibnu ‘Asâkir, penerbit Dârul Ma’rûf, Qom.

[2] Al-Husein, Simâtuhu wa Sîratuh, hal. 9, dinukil dari Siyar A’lâmin Nubalâ`, hal. 554-571.

user comment
 

latest article

  Ali bin Abi Thalib di Mata Ibnu Taimiyah
  [Momentum] Beribadah dengan Mengingat Ali bin Abi Thalib
  Iedul Ghadir Khum
  5 Shafar, Syahadah Sayidah Ruqayah as
  Benarkah Kita Mencintai Rasulullah ?
  Kesantunan Nabi Saw dalam Kalam Ayatullah Muthahari
  Merayakan Lebaran di Idul Ghadir
  Al-Ghadir Menurut ASWAJA
  Ghadir Khum Adalah Untuk Segenap Umat Islam
  Ghadir, Pelita Kebenaran