Indonesian
Friday 22nd of September 2017
code: 82060
Mulla sadra dan pertanyaan tentang realitas (1)



Orang yang seagama, filsafatnya bisa saja berbeda. Begitu pula sebaliknya, orang yang berbeda agama, bisa saja filsafatnya sama. Namun kesamaan filosofis itu, biasanya, hanyalah pada garis besar saja. Pada uraian rinci biasanya terdapat perbedaan yang mencolok. Perbedaan itu terletak pada tambahan terhadap pandangan pokok yang berbeda. Itulah kita jumpai pada eksistensialime Islam di abad pertengahan dan eksistensialisme Barat di awal abad-20. Kedua bentuk eksistensialisme itu sama-sama mengatakan bahwa eksistensi mendahului esensi. Atau, dengan perkataan lain, wujud lebih pokok daripada hakekat. Walaupun begitu yang dipersoalkan berbeda. Eksistensialisme Prancis abad 20 mempersoalkan eksistensi dan esensi manusia, sedangkan eksistensialisme Iran abad pertengahan mempersoalkan eksistensi dan esensi realitas secara umum terutama Tuhan. Eksistensialisme sendiri telah digantikan secara berturut-turut oleh strukturalisme dan pasca-strukturalisme. Pasca-strukturalisme sebagai varian dari filsafat posmodern yang pluralistik, relativistik dan anarkhis itu telah membuang semua bentuk esensialisme dari metafisika, bukan sekedar merendahkannya seperti yang dilakukan oleh eksistensialisme modern. Post-modernisme telah membuang semua esensi sehingga yang tinggal adalah eksistensi-eksistensi yang banyak yang tak lain dari benda-benda material di luar dan dalam tubuh kita. Tentu saja pandangan materialisme pasca-modernis itu sangat kontroversial, karena benda-benda itu tanpa esensinya, yaitu gerak dan interaksi antar sesamanya seperti yang dipahami oleh sains, tak mungkin melahirkan kehidupan, manusia dan bahkan pemikir-pemikir posmodernis itu sendiri.

Tampaknya kaum pasca-modernis telah terlena oleh permainan bit-bit imaji elektronik yang menari-nari di layar kaca dari game-watch anak-anak, di layar video-game Playstation ketika anak lebih besar, di monitor komputer ketika dia dewasa dan di layar televisi selama hidupnya sehingga tak sanggup berpikir mendalam dan mendasar, terpesona dengan permainan bahasa dan kata-kata, melupakan makna hakiki dari apa yang direpresentasikan oleh kata-kata itu, yaitu benda-benda di luar kita dan pikiran-pikiran dalam diri kita yang merupakan misteri abadi yang ingin dipecahkan para filosof dari masa ke masa. Yang manakah dari kedua realitas itu yang fundamental, yang sebenar-benarnya ada.

 Apakah yang Sebenarnya ADA: Materi atau Ide?

Jika kita ditanya “apa yang sebenarnya ada?”, maka kita pasti tahu bahwa itu pasti pertanyaan filosofis. Apapun jawaban kita, dia akan mencerminkan keyakinan kita tentang realitas. Maksudnya begini. Realitas adalah suatu kenyataan yang sebenarnya ada bukan hanya ada dalam khayalan atau pikiran sesorang.  Nah, kalau kita perhatikan definisi ini, maka tampak bahwa kata ‘yang sebenarnya’ merupakan embel-embel filosofis yang jelas memusingkan seorang awam. Sebaliknya, bagi seseorang yang mempunyai kecendrungan filosofis, justru akan timbul keresahan jika pertanyaan ini tidak terjawab. Untuk jelasnya marilah kita ikuti perdebatan filosofis berikut ini.


 Jawaban Pertama: Materialisme Ilmiah

Apakah realitas yang sebenarnya ada? Berikut ini adalah salah satu jawaban ilmiah yang umum. Yang sebenarnya ada adalah benda-benda. Tetapi para filosof akan terus bertanya, apa sebenarnya benda-benda seperti kursi, sepatu, batu, udara dan lain sebagainya itu? Jawaban ilmiah akan mengatakan bahwa semua benda-benda itu terdiri dari atom-atom yaitu bagian benda terkecil yang tak dapat dipisahkan lagi. Jawaban ini mirip dengan jawaban Demokritus di zaman dahulu kala. Belasan abad setelah Demokritus, nama atom pun diberikan Dalton pada zat terkecil yang ditemukan oleh para ahli kimia. Namun sejarah sains menemukan bahwa atomnya Dalton, bukanlah atomos seperti yang dipahami oleh Demokritus. Jika atomos adalah bagian benda terkecil yang tak mempunyai bagian lebih kecil lagi, tidak demikianlah atom dalam kimia modern. Soalnya, di awal abad lalu, para fisikawan menemukan bahwa setiap atom zat kimia itu terdiri dari bagian-bagian yang lebih kecil lagi yaitu inti dan elektron. Masih di paruh pertama abad yang lalu para fisikawan pun menemukan kenyataan bahwa inti atom itu pun terdiri dari dua jenis partikel atau butiran yang lebih kecil lagi yaitu dua jenis nukleon yaitu proton dan netron.

Paruh kedua abad 20 yang lalu, para fisikawan menemukan lebih dari seratus partikel elementer yang setara tapi lebih berat dari nukleon sehingga orang mulai curiga bahwa partikel elementer bukanlah bagian terkecil semua benda. Memang begitulah keadaanya ketika ditemukan bahwa proton, neutron dan partikel-partikel elementer lainnya yang lebih berat daripada itu ternyata terdiri dari partikel-partikel yang lebih kecil lagi yaitu partikel-partikel quark. Walaupun begitu, sampai sekarang secara eksperimental belum pernah ditemukan tanda-tanda tentang adanya sub-partikel yang lebih kecil dari quark, kendati secara matematis sub-partikel itu tersebut sudah patut dapat diduga. Dengan demikian inilah jawaban terakhir para ilmuwan modern jika ditanya apa yang sebenarnya ada. Tapi marilah kita lihat apakah jawaban itu memuaskan kaum filosof.

Untuk sebagian orang jawaban itu memang memuaskan, yaitu bagi kaum materialis. Tapi buat sebagian lagi, yaitu kaum idealis, hal itu sangat tidak memuaskan. Soalnya, sebagai filsuf sejati mereka terus bertanya. Apa sebenarnya quark dan lepton itu? Soalnya, mana buktinya bahwa partikel-partikel itu benar-benar ada. Bukankah kita tak bisa melihatnya. Bukankah kaum materialis adalah seorang empiris yang mengaku semua pengetahuan dapat diperoleh hanya melalui indra? “ “Ah, Anda salah mengerti” jawab kaum materialis. “Kata ‘melalui’ bukan berarti langsung saja, tetapi bisa tidak langsung”, begitu lanjut mereka. “Eksistensi partikel-partikel fundamental”, kata mereka, “bukan hanya bisa diduga di dalam pikiran. Dia hanyalah konsep yang ada di pikiran manusia. Dia adalah konsep yang paling ringkas yang bisa digunakan untuk mereka-reka semua pengalaman empiris manusia.”

Jawaban Kedua: Idealisme Religius

Begitulah jawab kaum materialis. Maka para filosof idealis-pun tersenyum-senyum mendengarkannya. “Wah-wah, bagaimana Anda ini. Jadi sesuatu yang hanya ada di pikiran manusia merupakan bagian terkecil dari semua yang ada di alam semesta ini. Kalau begitu, kamilah yang benar. Semua realitas sebenarnya terdiri dari pikiran atau ide bukan benda-benda. Hidup idealisme.” Begitulah kira-kira argumentasi mutakhir penganut idealisme. Maka kita kaum awam yang religious-pun senang atas kemenangan kaum idealis ini. Soalnya, dengan demikian sederetan realitas religius, yang hanya bisa diyakini melalui iman dan tak dapat dibuktikan secara empiris atau ilmiah, sekarang memperoleh legitimasinya. Semua yang ada, ada dalam pikiran, yaitu “pikiran semesta yang memikirkan dirinya sendiri” seperti kata Hegel yang seorang idealime absolut di abad ke-19 yang justru diperkuat oleh pernyataan Stephen Hawking di abad 20 yang mengatakan hukum-hukum alam tak lain dari pada pikiran Tuhan [1]

Tentu saja menjadi seorang idealis tak perlu harus menjadi seorang hegelian dengan logika dialektiknya yang non-ilmiah itu. Nyatanya, idealisme monistik absolut itu kini ternyata merupakan ideologi yang populer di kalangan para anti-sains Zaman Baru di dunia Barat yang muncul semenjak tahun 70-an yang bereksperimen dengan teknik-teknik meditasi untuk mencapai kebenaran mutlak. Mereka mencari kebenaran tidak dengan menjelajah alam luar, tetapi dengan menukik langsung ke alam batin jiwanya. Sebagian dari mereka merasa memperolehnya, dan merekapun menyampaikan penemuannya sebagai nabi-nabi baru di akhir zaman. Berbagai agama dan aliran kebatinan baru di Barat banyak mengklaim hal seperti itu. Mereka menyebut dirinya sebagai bagian dari gerakan Zaman Baru. Akan tetapi, mereka ini minoritas di negerinya sendiri. Sebagian lagi justru bertanya lebih lanjut. “Apa sebenarnya itu pikiran?”. Pikiran bagi kaum materialis tak lain dari pola-pola dalam otak manusia. Bukan hanya pada otak manusia tetapi juga di luar otak manusia yaitu di benda-benda penyimpan informasi seperti misalnya buku-buku, pita kaset audio dan video, piringan laser, CD dan lain sebagainya.

“Wah-wah,” ujar pengikut idealisme, “banyak sekali pola yang ada di sana tapi tak semuanya mempunyai makna.” Ah tentu saja hanya pola yang mempunyai makna. Makna itu diberikan oleh manusia melalui komunikasi yang juga terpola antar sesama. Jadi pikiran itu tak lain dari “kumpulan pola bermakna yang saling memaknai”. Pola bermakna itulah yang disebut “tanda”. Nah, sebagian tanda itu dibuat manusia, sebagian lagi bersifat alamiah. Sains itu membaca tanda-tanda alamiah. Para strukturalis menganggap tanda-tanda itu membentuk struktur-struktur non-material statik yang ada di alam pikitran yang lepas dari otak-otak manusia dan media informasi di luar otak manusia. Sedangkan kaum pasca-strukturalis justru melihat proses tanda menandai itu tak dapat dilepaskan dari otak manusia dan media teknologi yang ada sebagai perpanjangannya dan kedua yang disebut terakhir ini tak lain dari materi. Tanda-tanda itu bukan statis tetapi dinamis yang terus berkembang dengan evolusi perkembangan materi.

Jawaban Sintesis: Proses Kreatif

Dengan demikian, marilah kita simak lebih jauh, tibalah kita pada suatu pandangan berputar yang mengatakan bahwa Realitas pada hakekatnya adalah materi yang terdiri dari tanda-tanda yang ada pada materi. Atau bisa juga kita katakan bahwa realitas adalah proses tanda-menanda yang bermain di atas kumpulan tanda-tanda. Lebih pendek, lagi realitas adalah proses yang menafsir-dirinya sendiri. Atau, dengan perkataan lain, realitas adalah proses interpretasi diri. Kreasi dan kognisi, alias cipta dan cita, tak lain dari pada dua modus yang berbeda dari interpretasi. Yang satu disebut kreasi, yang lain disebut refleksi. Jika penekanannya pada proses menulis, yaitu melahirkan tanda-tanda, maka proses itu mengarang diri atau kreasi diri. Jika proses itu bersifat memasukkan tanda-tanda, maka proses itu adalah proses membaca dan memahami yang bersifat refleksif. Proses selalu mempunyai dua sisi: menulis dan membaca; kreatif dan kognitif; berbuat dan mengetahui. Dengan demikian tibalah kita pada filsafat proses. Filsafat proses non-dialektik modern, yang dikembangkan oleh Alfred North Whitehead [2] di awal abad ke-20, mempunyai jawaban mengenai apa itu realitas. Realitas itu bukan benda-benda ataupun pikiran yang abadi. Realitas adalah proses yang terdiri dari rangkaian peristiwa-peristiwa yang bersifat sementara. Rekannya di Prancis, Henry Bergson [3], berpendapat bahwa hakekat proses itu adalah evolusi kreatif yang digerakkan oleh semangat hidup atau elan vital.

Jadi, menurut filsafat proses yang benar-benar ada adalah peristiwa-peristiwa dan hakekat proses itu adalah kreativitas. Tampaknya, dengan ini, semua terjelaskan dan bisa memuaskan semua orang. Yang ideal dan yang material tak lain dari aspek-aspek saja dari setiap proses. Bagi orang yang beragama jika proses itu adalah semesta maka keseluruhan hukum-hukum alam merupakan aspek ideal bagi alam semesta. Dan ini, menurut ilmuwan atheis, Stephen Hawking, dapat diibaratkan sebagai pikiran Tuhan. Bagi yang atheis, kedua aspek itu ada bagaikan Yin dan Yang dalam Taoisme. Itulah sebabnya pada dasawarsa-dasawarsa terakhir ini buku-buku dengan judul “The Tao of …” berlimpah setelah diterbitkannya “The Tao of Physics” [4] , karangan Fritjof Capra, laku keras. Dengan pandangan ini maka pasangan Tuhan dan Alam adalah pasangan aspek Realitas yang dinamis kreatif. Dan inilah ajaran oleh mistikus-mistikus agama Zaman Baru yang mendapat angin dengan buku Fritjof Capra, Gary Zukav dan lain-lainnya. Pandangan yang mirip wahdatul wujud ini mendapat legitimasinya dalam arsitektur komputer alias mesin komputasi elektronik yang mulai mendominasi dunia di dasawarsa-dasawarsa akhir abad yang baru silam. Setiap komputer terdiri dari piranti lunak, alias software, berupa program dan piranti keras, alias hardware, berupa rangkaian elektronik yang semakin lama semakin kompleks, kecil dan canggih. Maka, orang pun mengidentifikasi alam sebagai komputer dan hukum-hukum alam sebagai program komputer semesta.

Jika alam itu sebuah komputer, maka bagian terkecil alam semesta yaitu partikel-partikel fundamental dapat dianggap sebagi prosesor. Teori kuantum mengatakan sebuah partikel juga merupakan gelombang materi yang mengikuti persamaan matematis yang disebut persamaan gelombang Schrodinger. Bagi sejumlah pemikir filosofis kuantum, fungsi gelombang yang memenuhi persamaan tersebut diidentikkan dengan modul-modul program bagi prosesor partikel.  Sebenarnya, secara teoritis, bukan hanya partikel yang mempunyai persamaan gelombang. Atom, molekul, batu, bumi dan benda-benda besar lainnya pun, termasuk makhluk hidup, juga mempunyai persamaan gelombang. Oleh karena itu tak mengherankan jika sejumlah penganut agama Zaman Baru mengidentifikasi ruh manusia dengan fungsi gelombang kuantumnya. Soalnya seperti halnya ruh manusia yang bebas mengendalikan tubuhnya, begitu juga fungsi gelombang suatu sistem dianggap mengendalikan perilaku sistem tersebut.

Hal ini tentu sangat menggelikan buat kaum materialis. Soalnya buat mereka, fungsi gelombang dalam fisika kuantum hanyalah merupakan peralatan matematis untuk menghitung peluang keadaan suatu sistem. Jadi sebagai perangkat matematis, fungsi gelombang itu hanya ada di pikiran manusia. Artinya begini: Konsep fungsi gelombang dan konsep-konsep abstrak lainnya tak lain dari pola-pola keadaan otak manusia. Dengan sendirinya, bagi kaum materialis, pikiran manusia tak lain dari sifat-sifat dari proses dan keadaan yang dimiliki oleh otak manusia sebagai sistem materi biologis yang sangat kompleks. Jadi bagi kaum materialis, yang benar-benar ada adalah materi dan pikiran, jiwa dan lain sebagainya yang non-material tak lain dari karakteristik yang dimiliki oleh sistem-sistem material. Maksudnya pikiran itu tak lain dari pada pola-pola dalam proses elektrokimiawi di otak. Sebaliknya, kaum idealis menganggap yang benar-menar ada adalah pikiran dan keseluruhan ide-ide yang ada di dalamnya, sedangkan sistem-sistem material seperti partikel elementer tak lain tak bukan adalah konstruksi pikiran manusia. Dua-duanya menganggap bahwa salah satu, materi atau ide, benar-benar “Ada” sedangkan yang lain “ada” relatif terhadapnya. Tetapi apa sebenarnya “Ada” itu?

Apakah “ADA” Itu Sebenarnya?

Bagi banyak orang pengertian “ADA” adalah sesuatu konsep yang paling abstrak yang tak perlu didefinisikan atau dijelaskan dengan konsep-konsep lain. Justru konsep-konsep lain yang memerlukan konsep “ada” untuk jika ingin dijelaskan melaui definisi. Karena itu setiap definisi ada akan merupakan definisi melingkar yang menggunakan kata itu sendiri. Misalya ada orang yang mendefinisikan ADA sebagai “sesuatu yang dimiliki oleh semua benda yang ada”. Oleh karena itu ada dua ekstrim yang menanggapi kebuntuan logika ini. Satu cara menganggap bahwa ADA tidak bisa didefinisikan atau ditangkap pikiran akan tetapi hanya bisa langsung ditangkap oleh intuisi intelektual. Hal ini barangkali dapat masuk akal orang kebanyakan, tetapi pakah ADA-nya Tuhan juga demikian? Tentu ada orang berpendapat “ADA”nya sesuatu yang mutlak tak sama dengan “ada”nya sesuatu yang relatif. Akan tetapi tidaklah demikian halnya dengan Mulla Sadra yang berpendapat ADA itu tunggal dan untuk semua benda, baik yang konkret maupun yang abstrak. Walaupun begitu “ADA”-Nya Tuhan adalah ADA murni, sedangkan “ada” nya yang lain bercampur dengan esensi. Dengan posisi seperti ini, dia pun menyelesaikan banyak persoalan. Yang pertama adalah persoalan pembuktian adanya Tuhan. Karena Tuhan adalah ADA murni, maka mengatakan “Tuhan itu tidak ada” adalah suatu kemustahilan. Soalnya jika Tuhan tidak ada, itu berarti bahwa “ADA itu tidak ada”. Bukankah itu suatu kemustahilan. Oleh karena itu Tuhan itu tidak bisa tidak harus ada alias “wajibul wujud”. Karena “Ada itu tidak ada” adalah suatu yang kontradiksi, maka pernyataan kebalikannyalah yang benar.

Bagi sebagian orang pembuktian ontologis seperti ini mungkin merupakan suatu yang menggelikan, karena hal ini sama saja upaya untuk membuktikan bahwa “ADA itu ada” yaitu sesuatu yang tak perlu dibuktikan. Dan ini bersumber pada kebiasaan kebahasaan khas para filosof, yaitu menganggap kata sifat sebagai kata benda. “ADA” yang merupakan subyek itu adalah kata benda dan “ada” yang merupakan adalah kata sifat. Bahkan Immanuel Kant memberi tahu kita bahwa “ada” itu pun bukan kata sifat, tetapi kata keadaan yang menerangkan kata sifat. Namun buat pengikut Mulla Sadra, pembuktian ini merupakan argumentasi terunggul karena tak memerlukan yang lain selain Diri-Nya sendiri. Pembuktian-pembuktian eksistensi Tuhan yang lain memulai argumennya dari sesuatu yang bukan Tuhan yaitu alam. Keunggulan lain dari identifikasi Tuhan sebagai ADA murni adalah terselesaikannya persoalan Dzat dan Sifat yang menghantui para ahli ilmu kalam.

Pada awalnya, ketika ulama Mu’tazilah, yang merupakan pelopor ilmu kalam, membuktikan keesaan Tuhan dan keadilan-Nya dengan menggunakan logika Yunani, sebenarnya mereka menjalankan suatu tuntutan da’wah untuk melawan da’wah pendeta Nashrani yang menggunakannya terlebih dahulu. Salah satu konsep yang diperlukan untuk itu adalah wujud alias ADA dan menjadikannya sebagai sifat Tuhan yang paling pokok. Kata Wujud itu sendiri sebenarnya tak ada dalam Quran. Walaupun begitu, kata ini nyatanya diterapkan oleh para ulama ilmu kalam pada Allah swt sebagai salah satu Sifat-Nya, bahkan sebagai Sifat pertama. Tak mengherankan jika konsep wujud ini dalam kaitannya dengan Tuhan menimbulkan sejumlah kontoversi di dunia pemikiran Islam. Di dunia keilmuan Kalam, diperdebatkan apakah sifat mempunyai wujud atau tidak. Di kalangan tasawuf, diperdebatkan mengenai wahdatul wujud ataupun wahdatul syuhud. Di kalangan filsafat diperdebatkan prioritas wujud dan mahiyah. Persoalan dasarnya adalah kenyataan bahwa al Qur’an dalam merujuk Tuhan, menggunakan berbagai nama yang berbeda yang bersesuaian dengan Sifat-sifat-Nya. Pertanyaan yang kemudian timbul adalah apakah sifat itu ada secara independen, ataukah hanya berada di dalam pikiran manusia? Kalau sifat itu menyangkut benda-benda konkret yang bisa dilihat dan dipegang, maka sifat-sifat itu ada yang independen artinya lepas dari benda itu, ada pula yang tak dapat dilepaskan dari benda tersebut. Sifat-sifat pertama disebut sifat-sifat aksidental, sedangkan sifat-sifat jenis kedua disebut sebagai sifat esensial (hakiki) atau esensi alias hakekat.

BERKELANJUTAN !!!!........

user comment
 

latest article

  Hasad
  Wara’ Dan Takwa (5)
  Konsep Insan Kamil dalam Perspektif Ibnu Arabi
  Mulla sadra dan pertanyaan tentang realitas (1)
  Irfan Teoritik Ibn ‘Arabî dalam Pandangan Mullâ Shadrâ(2)
  BERLEPAS DIRI DARI KEADAAN YANG BURUK DAN MENEKAN
  Wahabi Tidak Bisa Memungkiri Keutamaan Imam Ali as
  Akar Terorisme yang Mengatasnamakan Agama
  Larangan Allah Mendekati Perbuatan Keji
  Dahsyatnya Kasih Sayang Allah