Indonesian
Saturday 13th of April 2024
0
نفر 0

Masyarakat Iran dan Tradisi Qur’ani yang Kental

Ramadhan dalam keyakinan setiap muslim, adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Malaikat Jibril As menurunkan Al-Qur’an yang berisi firman-firman Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw dalam bulan Ramadhan, tepatnya pada malam a-Qadr, malam yang kemuliaannya melebihi seribu bulan. Membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan, jauh lebih besar pahalanya dibanding membacanya di bulan yang lain. Oleh karena itu, umat muslim diseluruh dunia, menunjukkan kecintaannya yang berlipat ganda pada Al-Qur’an di bulan ini,
Masyarakat Iran dan Tradisi Qur’ani yang Kental

Ramadhan dalam keyakinan setiap muslim, adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Malaikat Jibril As menurunkan Al-Qur’an yang berisi firman-firman Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw dalam bulan Ramadhan, tepatnya pada malam a-Qadr, malam yang kemuliaannya melebihi seribu bulan. Membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan, jauh lebih besar pahalanya dibanding membacanya di bulan yang lain. Oleh karena itu, umat muslim diseluruh dunia, menunjukkan kecintaannya yang berlipat ganda pada Al-Qur’an di bulan ini, dengan berusaha mengkhatamkannya berkali-kali, tidak terkecuali masyarakat muslim Iran.

Masyarakat muslim Iran sangat terkenal dengan kecintaannya terhadap Al-Qur’an. Kecintaan tersebut tidak hanya ditampakkan dengan keindahan dan kemerduan suara saat membacanya, namun juga ketika menghafalkannya, ketika mengkaji dan menafsirkannya serta ketika menuangkannya di atas kanvas dalam bentuk lukisan kaligrafi ayat yang eksotis. Mushaf Al-Qur’anpun dicetak seindah mungkin dengan tulisan khat khas Persia. Tahun 2015 ini, Qari Iran Hasan Danesh berhasil meraih juara pertama pada MTQ Internasional ke-32 yang terselenggara pada bulan Mei di Tehran dan qari Iran lainnya Muhsin Haji Hassani Kargar juga meraih prestasi terbaik sebulan setelahnya di ajang MTQ Internasional ke-57 yang terselenggara di Malaysia. 

Ulama-ulama Iran dikenal memberi sumbangsih besar dalam dunia pengkajian dan penafsiran Al-Qur’an. Dari Iran dikenal kitab tafsir Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur’an, yang ditulis oleh Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathabai dalam bahasa Arab. Kitab yang terdiri dari 20 jilid tersebut selesai ditulis pada tanggal 23 Ramadhan 1392 H (bertepatan dengan tahun 1971 M). Kitab ini merupakan kitab tafsir paling fenomenal yang ditulis diabad ini. Dikaji dan dipelajari di universitas-universitas Islam di seluruh dunia, termasuk dalam pengkajian studi Islam di Barat. Versi terjemahan dalam bahasa Persia terdiri dari 40 jilid sementara terjemahan dalam bahasa Indonesia masih dalam proses pengerjaan dan saat ini baru sampai jilid ke tujuh.

Ulama Iran lainnya tidak ketinggalan, Ayatullah Makarim Shirazi menulis kitab Tafsir al-Amtsal yang diselesaikannya dalam 15 tahun. Aslinya kitab ini berbahasa Persia dengan judul tafsir Nemuneh terdiri dari 27 jilid, terjemahan bahasa Arabnya dicetak dalam 15 jilid. Ayatullah Jawadi Amuli menghasilkan karya Tafsir  Tasnim ditulis dalam bahasa Persia, sampai saat ini sudah terdiri dari 35 jilid dan belum tuntas menyelesaikan tafsiran seluruh Al-Qur’an. Jika penulisannya selesai, kitab tafsir ini akan menjadi kitab tafsir paling tebal diantara kitab-kitab tafsir yang pernah ada.

Iran tidak hanya dikenal dari sisi pengkajian dan penafsiran Al-Qur’an yang memberi sumbangsih besar dalam dunia intelektual Islam, namun juga dikenal dengan masyarakatnya yang gemar membaca dan menghafal Al-Qur’an dalam berbagai tingkatan usia. Masih melekat dalam ingatan masyarakat dunia mengenai bocah cilik yang menghafal Al-Qur’an sejak usia 5 tahun, namanya  Sayyid Muhammad Husain Thabathabai (sama persis dengan nama penulis kitab Tafsir al Mizan). Tidak hanya hafal Al-Qur’an 30 juz secara sempurna namun juga memahami tafsir dari setiap ayatnya. Kecerdasan Qur’ani yang dimiliki itulah, yang membuatnya meraih gelar doktor honoris causa dalam bidang “Science of the Retention of The Holy Quran.“dari Hijaz College Islamic University di Inggris tahun 2005. Biografinya ditulis oleh Dina Sulaeman dalam bukunya “Doktor Cilik Sang Mukjizat Abad 20” dengan sub judul “Hafal dan Paham Al-Qur’an di Usia 7 Tahun”.

Ia tidak sendiri, setelahnya hafiz-hafiz cilik tumbuh bak cendawan di musim hujan. Saat ini disebutkan ribuan penghafal Al-Qur’an di Iran yang dimulai dari usia balita. 3 diantaranya dirangkum biografinya kembali oleh Dina Sulaeman dalam buku series selanjutnya, “Bintang-bintang Penerus Doktor Cilik” terbit tahun 2011 oleh penerbit Iman. Pada bab ketiga dari buku tersebut, memuat wawancara saya dengan Doktor Cilik yang kini telah dewasa beserta wawancara dengan tiga hafiz cilik asal Iran lainnya, Al Amini, Sayid Muhammad Husain Husaini dan Mujtaba Karsenash. Dari wawancara dengan keempat hafiz Al-Qur’an termasuk wawancara dengan ibunya, terungkap bahwa sejak masih dalam kandungan, mereka telah akrab dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Begitu lahir dan masih dalam ayunan merekapun telah dibiasakan dalam lingkungan keluarga yang begitu besar kecintaannya terhadap Al-Qur’an.

Ramadhan bagi masyarakat muslim Iran merupakan bulan menyemai cinta terhadap Al-Qur’an, khususnya warga Qom. Di Haram Sayidah Maksumah di jantung kota suci Qom, setiap harinya selama bulan Ramadhan, selepas shalat ashar diadakan program membaca Al-Qur’an satu juz perharinya. Dibimbing oleh qari-qari terkenal Iran dan disiarkan secara live melalui televisi. Masjid-masjid lainnya pun melakukan program serupa. Di masjid-masjid kampus, diadakan kelas Tafsir yang diasuh langsung oleh ahli-ahli tafsir Iran. Diantaranya Ayatullah Jawadi Amuli, Ayatullah Makarim Shirazi dan Ayatullah Ja’far Subhani, yang dihadiri ribuan jamaah setiap harinya.

Pada malam 23 Ramadhan, yang dalam keyakinan muslim Iran sebagai jatuhnya malam Lailatul Qadr, yaitu malam diturunkannya Al-Qur’an, mereka memenuhi masjid-masjid dan tanah lapang untuk membaca Al-Qur’an semalam suntuk. Dan dipuncak acara, mereka mengadakan doa bersama sembari meletakkan mushaf Al-Qur’an diatas kepala mereka, sebagai simbol ketundukan mereka akan titah Al-Qur’an dan ikrar Al-Qur’an akan menjadi junjungan dan pedoman mereka dalam menjalani kehidupan.

Secara umum, masyarakat Iran tidak hanya akrab dengan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan saja. Menjelang tahun baru, menjadi tradisi bagi masyarakat Iran untuk membeli mushaf Al-Qur’an yang baru dengan cetakan yang indah. Detik-detik pergantian tahun, semua anggota keluarga akan berkumpul dihadapan meja yang dipenuhi pernak-pernik khas tahun baru. Yang tertua dari mereka bertugas membaca doa akhir tahun, dan begitu tahun berganti, mereka mengawalinya dengan membaca beberapa suci ayat suci dari mushaf Al-Qur’an yang baru mereka beli. Demikian pula dalam mengawali tahun ajaran baru. Siswa-siswa sekolah berbaris antri di depan pintu gerbang sekolah, yang kemudian memasuki gerbang dengan sebelumnya mengecup mushaf Al-Qur’an yang dipegang salah seorang guru.

Kecintaan terhadap Al-Qur’an yang sedemikian besar inilah, yang membuat Iran menjadi negara yang disegani musuh-musuh Islam. Musuh-musuh Islam selalu mempropagandakan bahwa mengakrabi Al-Qur’an adalah simbol kemunduran, masyarakat Iran mempertontonkan realitas yang sebaliknya. Iran menjadi negara modern yang maju, karena merealisasikan ajaran-ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari mereka. Semoga kita juga.

Ismail Amin, sementara menetap di Qom-Iran

[Tulisan ini ditulis khusus untuk Majalah Itrah edisi Juli 2015]


source : abna
0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

Qadha dan Qadar
Hakikat Bersyukur
Imam Jalaluddin As-Suyuthi Tentang Peristiwa Karbala
Tujuh Fakta Syiah di Arab Saudi
Kisah Nabi Isa as dan Seorang Nenek Tua
Bagaimana kita dapat menetapkan bahwa al-Qur'an itu adalah wahyu yang diturunkan dari ...
Memahami Makna Ma Raitu Illa Jamila
BERDOA DIDALAM “ISTANA” SANG MAHA KUASA
Dapatkah Anda menjelaskan tentang Arbain Imam Husain As kepada saya?
Imam Ali al-Ridha As Teladan Akhlak Sepanjang Zaman

 
user comment