Indonesian
Friday 1st of March 2024
0
نفر 0

Hikmah Diyah Perempuan Setengah dari Diyah Pria

Masalah diyah pada dasarnya merupakan metode dan solusi ekonomi dalam Islam untuk memberikan kerugian kepada seseorang yang dirugikan. Sampai pada masalah ini, tidak ada keberatan apapun terkait diyah atau tebusan atas kerugian. Tapi yang dipermasalahkan selama ini, mengapa
Hikmah Diyah Perempuan Setengah dari Diyah Pria

Masalah diyah pada dasarnya merupakan metode dan solusi ekonomi dalam Islam untuk memberikan kerugian kepada seseorang yang dirugikan. Sampai pada masalah ini, tidak ada keberatan apapun terkait diyah atau tebusan atas kerugian. Tapi yang dipermasalahkan selama ini, mengapa dalam Islam diyah perempuan harus diberikan setengah dibandingkan dengan diyah pria. Apakah ini bukan bentuk lain dari diskriminasi dan ketidakadilan terhadap perempuan
 


Menjawab pertanyaan yang semacam ini perlu mencermati dengan seksama konsep masyarakat Islam, dimana aktivitas ekonomi dibebankan di pundak pria. Dalam masyarakat Islam, pria memiliki tugas khusus yang tidak dibebankan kepada perempuan. Perempuan dalam sebuah keluarga bertanggung jawab dan pengelola asli segala bentuk aktivitas di dalam rumah tangga. Perempuan memegang posisi sentral dalam keluarga. Sementara pria bertugas menyediakan sarana kehidupan bagi kesejahteraan keluarganya.
 


Keseluruhan hukum Islam berdiri atas asas maslahah (kebaikan) dan mafsadah (keburukan) tertentu. Setiap hukum memiliki hikmah dan ada kebaikan di balik setiap pembentukan hukum. Jika Islam melarang sesuatu, alasannya adalah adanya keburukan dan jika memerintahkan sesuatu pasti ada kebaikan di sana. Tentu saja manusia tidak mampu secara keseluruhan mendaftar segala bentuk kebaikan dan keburukan secara sistematis dalam bentuk hukum. Oleh karenanya, selain bersandar pada akal sehatnya, manusia juga perlu tuntunan yang diberikan oleh manusia-manusia suci seperti para nabi dan imam. Mereka yang menentukan bahwa diyah seorang perempuan setengah dari diyah pria. Bila mereka yang menentukan demikian sesuai dengan ajaran Allah Swt, maka pasti ada hikmah di balik ketentuan ini.
 


Kesetaraan Gender, Berbeda Fungsi
 
Permasalahan diyah perempuan jangan dilihat dari sisi kesempurnaan manusia. Karena akan dibayangkan bahwa pria lebih sempurna dari perempuan, ketika melihat diyah perempuan setengah diyah pria. Dan juga bukan masalah ketakwaan, sehingga kita akan mengatakan bahwa pria lebih baik sisi spiritualnya dari perempuan. Mengingat perempuan seperti Sayidah Maryam juga memiliki hubungan langsung dengan Allah, bukan hanya Musa as. Tapi masalah diyah perempuan harus dilihat secara komprehensif dalam sistem sosial dan ekonomi Islam. Karena yang memberi nafkah dalam konsep Islam menjadi tanggung jawab pria, maka diyah seorang pria lebih ketimbang perempuan. Artinya, setengah diyah perempuan itu kembali pada perannya dalam keluarga muslim. Tapi pada saat yang sama, diyah tidak mengenal perbedaan antara seorang tokoh dan pejabat pemerintah dengan masyarakat biasa. Artinya, penentuan diyah dan perbedaan yang ada antara pria dan perempuan itu kembali pada peran mereka masing-masing dalam tatanan keluarga Islam.
 


Sekaitan dengan kesetaraan pria dan perempuan dalam meraih kesempurnaan maknawi, Allah Swt dalam surat an-Nahl ayat 97 berfirman, "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
 


Begitu juga dalam ayat 35 surat al-Ahzab, "Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar."
 


Kelembutan Perempuan dan Kekuatan Pria
 
Islam secara realistis menerima ada perbedaan fisik antara perempuan dan laki-laki. Pada prinsipnya, fisik perempuan lebih lemah dari pria. Dengan demikian harus diterima bahwa mereka lebih terbatas dalam hal mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang mendatangkan keuntungan materi, tidak seperti pria. Siapapun saja akan menerima perbedaan fisik ini dan begitu juga dampaknya dalam kehidupan sehari-hari, bahkan mereka yang menganggap tidak ada perbedaan antara pria dan perempuan.
 


Sebagai contoh, dengan fisik yang dimilikinya, perempuan harus menerima kenyataan mereka ketika berkeluarga akan melewati masa kehamilan yang berlanjut dengan persalinan dan membesarkan anak. Masa-masa ini sangat menguras energi setiap perempuan. Tapi pada saat yang sama, pekerjaan yang sangat mulia ini ternyata tidak mendatangkan keuntungan materi kepadanya. Kewajiban ini dibebankan kepada perempuan mengingat kondisi dan struktur tubuhnya berbeda dengan pria yang membuatnya lebih tepat untuk melaksanakan tugas mulia ini. Kelembutan perempuan dibutuhkan untuk membesarkan seorang anak dan bukan kekuatan pria.
 


Di sisi lain, di luar sana banyak pekerjaan yang membutuhkan kekuatan pria. Mereka bekerja si tempat-tempat dengan resiko kecelakaan bahkan hingga meninggal dunia. Dengan melihat kondisi ini, maka sudah sepantasnya bila diyah seorang pria lebih banyak dari diyah perempuan. Bila seorang pria atau kepala rumah tangga meninggal dunia akibat kecelakaan, maka keluarga itu akan sangat kehilangan dan sangat merugi. Karenanya, sudah sepantasnya bila diyah seorang pria lebih dua kali lipat dari perempuan.
 


Benar, saat ini kita menyaksikan perempuan dan pria atau suami dan istri dalam sebuah keluarga saling bahu membahu untuk memperbaiki taraf kehidupan. Artinya, dalam kenyataannya perempuan tidak diam di rumah menanti suami pulang dari kerja, tapi juga ikut membantu suaminya menambah pemasukan keluarga. Bahkan, perempuan juga mulai aktif melakukan kerja-kerja yang dilakukan oleh pria.
 


Sebuah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, tapi harus juga dikatakan bahwa apa yang terjadi ini tidak sesuai dengan bangunan masyarakat Islam yang diinginkan oleh Islam itu sendiri. Tentu saja masalah distribusi dan kesempatan kerja akan dibahas dalam kajian sistem ekonomi Islam secara tersendiri, tapi dalam kaitannya dengan pembahasan diyah, tetap saja mengacu pada prinsip masyarakat Islam, dimana yang memikul tanggung jawab kehidupan dan kesejahteraan keluarga adalah pria atau suami.
 


Itulah mengapa dalam konsep Islam seorang istri dalam sebuah keluarga mendapat perlakuan istimewa. Perlakuan ini bukan disebabkan diskriminasi, tapi kembali pada struktur fisik yang dimilikinya yang menuntut. Selain itu, tanggung jawab istri ketika dimulai dari masa kehamilan hingga menyusui dan membesarkan anak, bukan pekerjaan mudah. Sedikit terjadi masalah dalam jiwanya, akan sangat mempengaruhi pertumbuhan anak.
 


Oleh karenanya, lagi-lagi masalah diyah tidak dapat dipisahkan dari konsep Islam terkait masyarakat, keluarga dan ekonomi dalam  Islam. Hal inilah yang membuat tidak hanya masyarakat Islam, tapi juga pemerintahan Islam menjadi niscaya, untuk menata umat Islam sesuai dengan ajarah Islam. (IRIB Indonesia)
 


* Mahasiswi Jurusan Ulumul Quran, Jamiah Bintul Huda Qom.


source : irib
0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

Kedudukan Hadis “Imam Ali Pemimpin Bagi Setiap Mukmin Sepeninggal Nabi SAW”
Arbain, Perenungan atas Kebangkitan Imam Husein as
Kumpulan Fatwa Rahbar Seputar Taqlid
Ditolak ABI dan IJABI, Tokoh Syiah Intoleran Batal ke Indonesia
Doa Nadi Ali dan kegunaannya
Waktu Kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang Benar
Apakah falsafah dan tujuan pengulangan dari sebagian kata, kalimat dan ayat-ayat al-Quran?
Penyebab Hilangnya Karunia Ilahi
Antara Terpaksa dan Terjun Bebas
IMAM ALI AL-HADI, TEGUH DI ATAS KEBENARAN

 
user comment