Indonesian
Saturday 23rd of September 2023
0
نفر 0

Kepada Siapa Kita Berbuat Baik

Kepada Siapa Kita Berbuat Baik

 

Ihsan atau berbuat baik merupakan satu prinsip dan nilai dalam masyarakat Islam. Berdasarkan prinsip ini, Allah Swt dalam al-Quran memerintahkan semua manusia untuk berbuat baik dan Nabi Saw menilai ayat ini sebagai berkumpulnya segala nilai.

 

Nabi Muhammad Saw soal pentingnya perbuatan baik dan aksi kemanusiaan bersabda, "Barangsiapa yang mendengar teriakan minta tolong seorang muslim dan tidak menjawabnya, maka ia tidak termasuk orang muslim."

 

Sekaitan dengan bagaimana seseorang dapat mempertahankan dan menghidupkan aksi kemanusiaan kepada orang lain, Imam Ali as berkata, "Melupakan perbuatan baik yang telah engkau lakukan itu dengan sendirinya engkau telah menghidupkan nilai-nilai berbuat baik dalam dirimu."(1)

 

Ketika ditanya mengenai hubungan sempurnanya kebaikan itu memiliki berapa syarat, Imam Kazhim as menjawab, "Siapa yang berbuat baik kepada seorang mukmin, maka ia akan sampai pada kesempurnaan dengan tiga hal berikut; menganggap kecil perbuatannya, menutupinya dan segera melakukan kebaikan itu. Karena siapa saja yang menganggap kecil perbuatan baiknya, maka pada saat yang sama ia menganggap besar saudaranya. Sementara siapa yang menganggap besar perbuatan baiknya kepada seorang mukmin, berarti telah mengecilkan saudaranya. Siapa yang menutupi perbuatan baiknya kepada orang mukmin, berarti telah melakukan perbuatan mulia. Dan siapa yang bersegera melakukan perbuatan baik, maka pemberiannya itu segar."(2)

 

Kepada siapa harus berbuat baik, Nabi Saw bersabda, "Berbuat baiklah. Apakah itu kepada orang yang layak atau tidak. Karena bila engkau berbuat baik kepadanya, tapi ia tidak layak mendapat kebaikan itu, berarti engkau telah mencapai keutamaan berbuat baik."(3) (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

 

Catatan:

1. Ghurar al-Hikam, hadis 2282, Muntakhab Mizan al-Hikmah, hal 374.

2. Tuhaf al-‘Uqul, hal 403, Muntakhab Mizan al-Hikmah, hal 374.

3. ‘Uyun Akhbar ar-Ridha as, 2/35/76, Muntakhab Mizan al-Hikmah, hal 374.

 

Sumber: ISNA


source : indonesian.irib.ir
0
0% (نفر 0)
 
نظر شما در مورد این مطلب ؟
 
امتیاز شما به این مطلب ؟
اشتراک گذاری در شبکه های اجتماعی:

latest article

Nabi Daud: Ya Allah, Tunjukkan Kawanku di Surga
Kedudukan Ahlulbait dan Akal dalam Ijtihad
Apa perbedaan antara idgham bighunnah dan idgham bilaghunnah dalam ilmu Tajwid?
filsafat penciptaan setan
Mengapa hari kiamat setiap orang masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri-sendiri dan ...
Bahasa rasulkan sudah fasih mengapa masih ada ilmu gharibil hadits? gharibil hadits ...
Persamaan Perempuan dan Laki-laki Dalam Perspektif Islam (Bag. 1)
Pohon Tauhid
Mengungkap Arti Arbain
Kepada Siapa Kita Berbuat Baik

 
user comment